KALPATARU https://jurnalarkeologi.kemdikbud.go.id/index.php/kalpataru <ul class="highlight"> <li class="show"><strong><em>ISSN (print): <a href="http://u.lipi.go.id/1180436367" target="_blank" rel="noopener">0126-3099</a></em></strong></li> <li class="show"><strong><em>ISSN (online): <a href="http://u.lipi.go.id/1489116380" target="_blank" rel="noopener">2550-0449</a></em></strong></li> <li class="show"><strong><em>Accreditation Number (<a href="http://lipi.go.id/" target="_blank" rel="noopener">LIPI</a>): <a href="http://pusbindiklat.lipi.go.id/pembinaan-peneliti/akreditasi-majalah/" target="_blank" rel="noopener">721/AU/P2MI-LIPI/04/201</a></em></strong></li> <li class="show"><strong><em>Accreditation Number</em> <em>(<a href="https://ristekdikti.go.id/">Kemenristekdikti</a>):</em></strong>&nbsp;<a href="http://sinta2.ristekdikti.go.id/journals/detail?id=2837"><strong><em>30/E/KPT/2019</em></strong></a></li> </ul> <p><img src="/public/site/images/admin/iKalpataru.jpg" alt="" width="auto" height="200"></p> <p style="text-align: justify;"><strong>KALPATARU</strong> <strong>Majalah Arkeologi</strong> adalah jurnal ilmiah terakreditasi yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.</p> <p style="text-align: justify;">Jurnal ini memuat artikel ilmiah yang bersifat tematik, berkenaan dengan arkeologi dan kebudayaan secara umum, serta ilmu lainnya secara khusus, seperti antropologi, sejarah, ilmu budaya, dan ilmu-ilmu eksakta terkait. Artikel dapat berupa hasil penelitian, kajian, ataupun ulasan. Kalpataru terbit dua kali dalam setahun, yakni di bulan Mei dan November.</p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <center><strong>KALPATARU INDEXED BY:</strong></center><center><a class="imhover" title="Google Scholar" href="https://scholar.google.com/citations?user=urwWwz4AAAAJ&amp;hl=id" target="_blank" rel="noopener"><img style="width: 175px; height: auto;" src="/public/site/images/index/aqz-googlescholar.png" alt=""></a> <a title="Crossref" href="https://search.crossref.org/?q=kalpataru&amp;container-title=KALPATARU" target="_blank" rel="noopener"><img style="width: 175px; height: auto;" src="/public/site/images/index/aqz-crossref.png" alt=""></a> <a class="imhover" title="Portal Garuda" href="http://garuda.ristekdikti.go.id/journal/view/14352" target="_blank" rel="noopener"><img style="width: 175px; height: auto;" src="/public/site/images/index/aqz-garuda.png" alt=""></a><a class="imhover" title="Dimensions" href="https://app.dimensions.ai/discover/publication?and_facet_source_title=jour.1299511" target="_blank" rel="noopener"><img style="width: 175px; height: auto;" src="/public/site/images/index/aqz-dimensions.png" alt=""></a></center><center><a class="imhover" title="ISSN" href="https://portal.issn.org/resource/ISSN/2550-0449" target="_blank" rel="noopener"><img src="/public/site/images/index/aqz-issn.png" alt=""></a><a class="imhover" title="Sinta Ristekdikti" href="http://sinta2.ristekdikti.go.id/journals/detail?id=2837" target="_blank" rel="noopener"><img style="width: auto; height: auto;" src="/public/site/images/admin/Sinta_2_._._.png" alt=""></a></center> en-US <p>Penulis yang naskahnya diterbitkan menyetujui ketentuan sebagai berikut:</p><ol start="1"><li>Hak publikasi atas semua materi naskah yang diterbitkan dalam Jurnal Kalpataru (cetak dan online) dipegang oleh Redaksi dengan sepengetahuan penulis (hak moral tetap milik penulis naskah).</li><li>Ketentuan legal formal untuk akses artikel digital jurnal elektronik ini tunduk pada ketentuan lisensi Creative Commons <strong><em>Attribution-NonCommercial-ShareAlike </em></strong>(<a href="http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/" target="_blank">CC BY-NC-SA</a>), yang berarti Jurnal KALPATARU tidak memiliki tujuan komersial, berhak menyimpan, mengalih media/format-kan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan mempublikasikan artikel tanpa meminta izin dari Penulis selama tetap mencantumkan nama Penulis sebagai pemilik Hak Cipta.</li><li>Naskah yang diterbitkan secara cetak dan elektronik bersifat <a href="http://www.budapestopenaccessinitiative.org/" target="_blank">open access</a> untuk tujuan edukasi. Selain tujuan tersebut, redaksi tidak bertanggung jawab atas pelanggaran terhadap hukum hak cipta.</li></ol><p> </p> atina.winaya@gmail.com (Atina Winaya) muhammad.harsya@kemdikbud.go.id (Muhammad Harsya) Thu, 16 Jul 2020 00:00:00 +0700 OJS 3.1.2.4 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 Cover Kalpataru Volume 29, Nomor 1, Tahun 2020 https://jurnalarkeologi.kemdikbud.go.id/index.php/kalpataru/article/view/771 Puslit Arkenas Copyright (c) https://jurnalarkeologi.kemdikbud.go.id/index.php/kalpataru/article/view/771 Sun, 31 May 2020 00:00:00 +0700 Preface Kalpataru Volume 29, Nomor 1, Tahun 2020 https://jurnalarkeologi.kemdikbud.go.id/index.php/kalpataru/article/view/772 Puslit Arkenas Copyright (c) https://jurnalarkeologi.kemdikbud.go.id/index.php/kalpataru/article/view/772 Sun, 31 May 2020 00:00:00 +0700 GANESHA TANPA MAHKOTA DALAM PUSARAN RELIGI MASYARAKAT JAWA KUNA (SEBUAH KAJIAN PERMULAAN) https://jurnalarkeologi.kemdikbud.go.id/index.php/kalpataru/article/view/700 <p><strong><em>Abstract. </em></strong><em>The Ganesha statue without a crown is one of the unique depictions of archeological remains in Indonesia. These statues can be found in several areas such as Temanggung, Pekalongan, the National Museum, and Yogyakarta. This uniqueness is a reason to be appointed in an initial assessment. This is because no one has ever discussed this topic. Therefore, the challenge to be raised on this occasion is about the Ganesha in the community regarding their portrayal in the form without a crown? The objective to be achieved from this discussion is a discussion of Javanese society related to the previous discussion. In answering these questions, qualitative research methods are used by taking secondary data from a literature review. The approach used in this review discusses the iconology proposed to explain the background of phenomena that occur through related stories or mythologies. Through an analysis of the results, offering three initial responses to the crownless Ganesha statue, related to the story of Ganesh who prevented Ravana from bringing Atmalinga to Lanka, the spread of Gupta art in Southeast Asia, and related to traditions outside the palace.</em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong> <em>Ganesha, Ancient Java, Brahmin</em></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong>Abstrak. </strong>Arca Ganesha tanpa mahkota merupakan salah satu bentuk penggambaran unik dari tinggalan arkeologi di Indonesia. Keberadaannya diketahui terdapat di beberapa wilayah seperti Temanggung, Pekalongan, dan Museum Nasional. Keunikan tersebut menjadi alasan untuk diangkat dalam sebuah kajian permulaan. Hal ini dikarenakan belum pernah ada kajian yang membahas topik tersebut. Oleh karena itu, permasalahan yang coba diangkat pada kesempatan ini adalah bagaimana posisi dewa Ganesha di lingkungan masyarakat pada penggambarannya dalam wujud tanpa mahkota? Tujuan yang ingin dicapai adalah mengetahui pandangan masyarakat jawa Kuno terkait dengan keberadaan arca tersebut. Dalam upaya menjawab permasalahan tersebut, digunakan metode penelitian kualitatif dengan mengambil data sekunder dari kajian pustaka. Pendekatan yang digunakan pada kajian ini adalah pendekatan ikonologi, yang berusaha untuk menjelaskan latar belakang keberadaan fenomena tersebut melalui kisah atau mitologi yang terkait. Melalui hasil analisis, diperoleh tiga asumsi awal terhadap keberadaan arca Ganesha tanpa mahkota, yaitu terkait dengan kisah Ganesha yang mencegah Rahwana membawa Atmalinga ke Lanka, terkait dengan persebaran gaya seni Gupta di Asia Tenggara, dan terkait dengan tradisi luar keraton.</p> <p><strong>Kata kunci:</strong> Ganesha, Jawa Kuna, Brahmana</p> Ashar Murdihastomo Copyright (c) 2020 KALPATARU https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnalarkeologi.kemdikbud.go.id/index.php/kalpataru/article/view/700 Wed, 15 Jul 2020 13:47:30 +0700 TRACING VISHNU THROUGH ARCHAEOLOGICAL REMAINS AT THE WESTERN SLOPE OF MOUNT LAWU https://jurnalarkeologi.kemdikbud.go.id/index.php/kalpataru/article/view/664 <p><strong><em>Abstract. </em></strong><em>To date, </em><em>The West Slope area of Mount Lawu has quite a lot of archaeological remains originated from Prehistoric Period to Colonial Period. The number of religious shrines built on Mount Lawu had increased during the Late Majapahit period and were inhabited and used by high priests (rsi) and ascetics. The religious community was resigned to a quiet place, deserted, and placed far away on purpose to be close</em><em>r</em><em> to God. </em><em>All </em><em>religious activities were</em><em> held</em> <em>to </em><em>worship God</em><em>s</em><em>. This study aim</em><em>s</em><em> to trace Vishnu through archaeological remains. Archaeological method</em><em>s</em><em> used in this study are observation, description, and explanation. Result of this study shows that no statue has</em><em> ever</em><em> been identified as Vishnu. However, based on archeological data, the signs or symbols that indicated</em> <em>the existence of Vishnu </em><em>had</em><em> clearly </em><em>been </em><em>observed. The archeological evidences</em> <em>are the tortoise statue</em><em> as </em><em>a form of Vishnu Avatar, Garuda as the vehicle of Vishnu, a figure riding Garuda, </em><em>a figure</em><em> carrying cakra (the main weapon of Vishnu), and soles of </em><em>his</em><em> feet (trivikrama</em><em> of Vishnu</em><em>).</em></p> <p><em><strong>Keyword:</strong> Mount Lawu, Symbols, Vishnu</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Abstrak. </strong>Kawasan Lereng Barat Gunung Lawu hingga saat ini cukup banyak menyimpan tinggalan arkeologi, baik yang berasal dari Masa Prasejarah hingga Masa Kolonial. Jumlah bangunan suci keagamaan yang didirikan mengalami peningkatan ketika masa Majapahit Akhir, yang diyakini dibangun dan dihuni oleh kaum <em>rsi </em>dan pertapa. Kaum agamawan tersebut sengaja mengundurkan diri ke tempat yang sunyi, sepi, dan jauh dari keramaian untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Sudah barang tentu kegiataan keagamaan yang dilakukan adalah pemujaan terhadap para dewa. Kajian ini ingin menelusuri jejak keberadaan Wisnu melalui tinggalan arkeologi yang ada. Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut digunakan metode arkeologi yakni observasi, deskripsi, dan ekplanasi. Hasil dari kajian ini menunjukkan bahwa hingga sekarang belum ditemukan adanya arca Wisnu, namun berdasarkan tanda dan simbol yang berkaitan dengan Wisnu jelas teramati. Bukti-bukti tersebut adalah arca kura-kura yang merupakan salah satu wujud dari <em>avatara </em>Wisnu<em>, </em>Garuda wahana dari Wisnu, tokoh menunggang garuda, tokoh membawa cakra (senjata utama dari Wisnu), dan telapak kaki (<em>trivikrama </em>Wisnu).&nbsp;</p> <p><strong>Kata kunci: </strong>Gunung Lawu, Simbol, Wisnu</p> Heri Purwanto, Kadek Dedy Prawirajaya R. Copyright (c) 2020 KALPATARU https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnalarkeologi.kemdikbud.go.id/index.php/kalpataru/article/view/664 Wed, 15 Jul 2020 13:50:50 +0700 KEHIDUPAN BERAGAMA RAJA KERTANAGARA https://jurnalarkeologi.kemdikbud.go.id/index.php/kalpataru/article/view/634 <p><strong><em>Abstract. </em></strong><em>During the reign of King Kertanagara the last ruler of Singasari, the Buddhist Tantrayana and the Siwa Bhairawa merging together into one religious system. The motivation behind the merging of the two religions is not clear, it may have been tolerant nature of the king or to strengthen the kingdom to face the Chinese enemy Kubilai Khan. For this reason, king Kertanagara built two Siva-Buddhist temples, Candi Jawi and Candi Singasari.</em></p> <p><strong><em>Keywords: </em></strong><em>Kertanagara, Singasari, Tantrayana</em></p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p><strong>Abstrak. </strong>Pada masa pemerintahan Raja Kertanagara, penguasa terakhir Singasari, Buddha Tantrayana dan Siwa Bhairawa bergabung menjadi satu sistem agama. Motif di balik penggabungan kedua agama tersebut belum jelas. Mungkin karena sifat toleran Raja atau untuk memperkuat kerajaan dalam menghadapi musuh dari Cina, Kubilai Khan. Dengan alasan tersebut, Raja Kertanagara membangun dua kuil Siwa-Buddha, Candi Jawi dan Candi Singasari.</p> <p><strong>Kata Kunci: </strong>Kertanagara, Singasari, Tantrayana</p> Hariani Santiko Copyright (c) 2020 KALPATARU https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnalarkeologi.kemdikbud.go.id/index.php/kalpataru/article/view/634 Thu, 16 Jul 2020 09:09:25 +0700 THE SUNDANESE ECO-RELIGION KAMPONG OF KASEPUHAN CIPTAGELAR INDIGENOUS LOCAL COMMUNITY: CASE STUDY KAMPONG CENGKUK, SUKABUMI REGENCY https://jurnalarkeologi.kemdikbud.go.id/index.php/kalpataru/article/view/618 <p style="text-align: justify;"><strong><em>Abstract.</em></strong><em> This research focused on eco-religion of indigenous Sundanese local community of Kasepuhan Ciptagelar at Southern Halimun Mountain on how to manage sustainable environment. The Kampong Cengkuk is one of several kampongs that still follow the tradition of indigenous local community of Kasepuhan Ciptagelar for hundred years. This descriptive qualitative research aims to reveal the internal and external factors led to deforestation of natural forests with average around 6-8% per year. The research shows that the kampong is still practicing eco-religion tradition by protecting forestland (leuweung tutupan) only for their subsistence. The hypothesis is that the social-culture changes had been occurred in the community not only to restrict outer island agriculture in the forest, but also, in wet rice cultivation activities, to manage sustainable environment. The reduction in process and ceremonial activities also happened, which was originally eight ceremonies of outer island agriculture rituals into five ceremonies of wet rice cultivation. The more profane activities were developing economic crops in home garden. </em></p> <p style="text-align: justify;"><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Ecoreligion, Kampong, Environment, Forest, Tradition </em></p> <p style="text-align: justify;">&nbsp;</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Abstrak.</strong> Penelitian ini membahas tentang eko-religi masyarakat lokal Sunda Kampung Ciptagelar di Pegunungan Halimun Selatan bagaimana dalam pengelolaan lingkungan keberlanjutan saat ini. Kampung Cengkuk adalah salah satu dari kampung-kampung pengikut tradisi Kasepuhan Ciptagelar selama ratusan tahun. Penelitian dengan menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif ini yang bertujuan untuk mengetahui faktor dari dalam dan luar kampung penyebab deforestasi hutan alam dengan rata-rata sekitar 6-8% per tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik ekoreligi masih dianut warga kampung dengan menjaga hutan tutupan (leuweung tutupan) untuk kegiatan subsistensi. Hipotesa yang dibangun adalah perubahan sosio-kultur terjadi pada masyarakat dengan membatasi kegiatan berladang di hutan tetapi lebih kepada kegiatan bertani di sawah ladang untuk mengelola lingkungan berkelanjutan. Pengurangan pada proses dan kegiatan upacara, yang semula delapan upacara daur ladang menjadi lima upacara daur sawah. Kegiatan profan lebih banyak pada pengembangan komoditas tanaman ekonomi di kebun-talun.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>Kata kunci:</strong> Ekoreligi, Kampung, Lingkungan, Hutan, Tradisi</p> Ary Sulistyo Copyright (c) 2020 KALPATARU https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnalarkeologi.kemdikbud.go.id/index.php/kalpataru/article/view/618 Wed, 15 Jul 2020 13:51:42 +0700 MAKNA TIGA IKON GAJAH DI DALAM GEREJA SAINT PIERRE AULNAY PRANCIS https://jurnalarkeologi.kemdikbud.go.id/index.php/kalpataru/article/view/739 <p><strong><em>Abstract. </em></strong><em>Saint Pierre Aulnay Church is a Romanic-style church (Romanesque) that was built in the 12th century and is located in the Aquitaine Region, France. In this church, there are three elephant icons in the capital columns section. At the top of the icon, there is also an inscription in Roman that reads "HI SVNT ELEPHANTES" which means "this is an elephant-elephant". This unique sentence and elephant icon is not found in other Romanic-style churches in France. Elephants are not native to Europe, but elephant icons are produced in European (French) churches. During Medieval, some churches were found to have icons of animals or mythological creatures that were placed in several parts of the church. The icons of the animals are connected with the character of Jesus and are called bestiaries. The problem that will be answered in this research is what is the meaning contained in the elephant icon with the words "HI SVNT ELEPHANTES". The review in this study is the history of iconography and emphasizes the themes, concepts, styles, and meanings of icons. The theory used to analyze the problem put forward is the iconography and iconology of Erwin Panofsky. The results of this interpretation will be compared with the meaning of elephants in the archipelago at the same time.</em></p> <p><strong><em>Keywords</em></strong><em>: Bestiary, Church of Saint Pierre Aulnay, Elephant Icon, Medieval, French, Physiologus, Jesus</em></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong>Abstrak.</strong> Gereja <em>Saint Pierre</em> Aulnay adalah gereja bergaya Romanik (Romanesque) yang dibangun pada abad ke-12 dan terletak di Region Aquitaine, Prancis. Di dalam gereja ini terdapat tiga ikon gajah pada bagian <em>capital</em> <em>columns</em>. Pada bagian atas ikon terdapat pula inskripsi dalam bahasa Romawi yang bertuliskan “<em>HI SVNT ELEPHANTES</em>” yang artinya “ini adalah gajah-gajah”. Uniknya kalimat dan ikon gajah ini tidak ditemukan pada gereja bergaya Romanik lain di Prancis. Gajah bukan hewan asli Eropa namun ikon gajah diproduksi di gereja Eropa (Prancis). Pada masa Medieval memang didapati sejumlah gereja memiliki ikon-ikon hewan atau makhluk mitologi yang ditempatkan pada beberapa bagian gereja. Ikon dari hewan-hewan itu terhubung dengan karakter Yesus dan dinamakan <em>bestiary</em>. Masalah yang akan dijawab pada penelitian ini yaitu apa makna yang terkandung pada ikon gajah dengan tulisan “<em>HI SVNT ELEPHANTES</em>”. Tinjauan dalam penelitian ini bersifat sejarah ikonografi dan ditekankan pada tema, konsep, gaya, serta makna dari ikon. Teori yang dipakai untuk menganalisis masalah yang dikemukakan adalah ikonografi dan ikonologi dari Erwin Panofsky. Hasil dari pemaknaan ini akan dibandingkan dengan makna gajah di nusantara pada masa yang sama.</p> <p><strong>Kata kunci:</strong> Bestiary, Gereja Saint Pierre Aulnay, Ikon Gajah, Medieval, <em>Physiologus</em>, Yesus</p> Panji Syofiadisna Copyright (c) 2020 KALPATARU https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnalarkeologi.kemdikbud.go.id/index.php/kalpataru/article/view/739 Thu, 16 Jul 2020 09:10:28 +0700 Appendix Kalpataru Volume 29, Nomor 1, Tahun 2020 https://jurnalarkeologi.kemdikbud.go.id/index.php/kalpataru/article/view/773 Puslit Arkenas Copyright (c) https://jurnalarkeologi.kemdikbud.go.id/index.php/kalpataru/article/view/773 Sun, 31 May 2020 00:00:00 +0700