TATA RUANG PEMUKIMAN MEGALITIK, SITUS TANJUNG ARO KECAMATAN DEMPO UTARA, KOTA PAGAR ALAM

Main Article Content

Kristantina Indriastuti

Abstract

Situs-situs megalitk di Sumatera Selatan biasa dikenal dengan budaya megalitik Pasemah, arealnya merupakan dataran tinggi yang memanjang sekitar 70 km arah baratlaut-tenggara, antara Bukit Barisan dan Pegunungan Gumai, meliputi daerah yang luasnya sekitar 80 km 2. Situs-situs megalitik tersebar di dataran tinggi, di puncak gunung, di lereng dan ada yang di lembah. Pada umumnya situs-situs megalitik berada di ketinggian 400 – 800 meter dpl, berdasarkan hasil dating diperkirakan budaya megalitik di Sumatera Selatan berkembang sekitar abad 10-11 Masehi.Daerah Pasemah wilayahnya meliputi Bukit Barisan dan di kaki pegunungan Gumai. Salah satu situs yang akan dilakukan penelitian berada di kota Pagar Alam yaitu situs Tanjung Aro.

Situs Tanjung Aro pertama kali dilakukan penelitian sejak zaman Belanda dan berbagai macam tinggalan megalitik dapat kita temukan seperti; 2 buah bilik batu, arca orang dibelit ular, dolmen, batu datar, selain areal pemujaan, ternyata di situs ini ditemukan juga struktur benteng tanah, parit sekitar benteng dan fragmen gerabah yang cukup tebal yang berada di luar benteng yang kemungkinannya merupakan wadah atau bekal penguburan. Untuk itu pada penelitian yang akan dilakukan pada kesempatan ini yaitu mengetahui bagaimanakah pola pemukiman dan cara-cara bermukim masyarakat pendukung situs Megalitik Tanjung Aro, apakah kaitannya antara benteng tanah, gerabah, dan bangunan-bangunan megalitik di situs Tanjung Aro.

Article Details

Section
Articles

References

Ashmore, W., & Sharer, R. J. (2010). Discovering Our Past: A Brief Introduction to Archaeology. New York: McGraw-Hill.
Badan Informasi Geospasial. (2018). Peta Rupa Bumi Indonesia Digital. Diambil 26 Juli 2018, dari https://portal.ina-sdi.or.id/downloadaoi/
Bie, C. W. P. de. (1932). Verslag van de ontgraving der steenen kamers in de doesoen Tandjoeng Ara, Pasemah-Hoogvlakte. Tijdschrift v. Indische Taal-, Land- en Volkenkunde Bataviaasch Genootschap v. Kunsten en Wetenschappen, 72, 626–635.
Butzer, K. W. (1964). Environment And Archaeology: An Introduction to Plestocene Geography. Chicago: Aldine Company.
Butzer, K. W. (2006). Archaeology as Human Ecology. Cambridge: Cambridge University Press.
Chang, K. C. (1972). Settlement Patterns in Archaeology. In Current topics in Anthropology Vol. 5 No. 24 (Addison-We, hal. 1–26). Boston.
Hoop, A. N. J. T. a. t. Van Der. (1932). Megalithic Remains In south Sumatra. Netherlands: W.J. Thieme & Cie Zuthpen.
Indriastuti, K. (2006). Benteng Tanah Muara Payang: Permukiman di Indonesia, 102–107.
Kaudern, W. (1938). Ethnographical studies in Celebes: Results of the author’s expedition to Celebes, 1917-1920: Megalithic Finds in Central Celebes. Gothenburg: Elanders Boktryckeri Aktiebolag.
Kusumawati, Ayu & Sukendar, H. (2003). Pusaka Wisata Budaya Megalitik Bumi Pasemah: Peranan serta Fungsinya. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.
Mundardjito. (1993). Pertimbangan Ekologi dalam Penempatan Situs Masa Hindu-Buddha di Daerah Yogyakarta: Kajian Arkeologi-Ruang Skala Makro. Universitas Indonesia.
Prasetyo, B. (2007). Laporan Penelitian Arkeologi: Pusat Budaya Megalitik Pasemah di Kota Pagar Alam dan Lahat Sumatera Selatan. Jakarta.
Purbohadiwidjojo. (1967). Hydrology of Strato Volcanoes. Bandung: Geological Survey of Indonesia.
Siregar, S. M. (2016). Religi Komunitas Megalitik di Kawasan Danau Ranau dalam Peradaban Masa Lalu Sumatera Selatan. Palembang: Balai Arkeologi Sumatera Selatan.
Soebroto, P. (1995). Pola-pola Zonal Situs-situs Arkeologi. Berkala Arkeologi, Special Ed(15), 133–138.
Suan, A. B. dkk. (2007). Atung Bungsu: Sejarah Asal-Usul Jagat Besemah. Palembang: Pesake dan Pemerintah Kota Pagar Alam.
Sukendar, H. (2003). Megalitik Bumi Pasemah: Peranan serta Fungsinya. Jakarta: Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata Deputi Bidang Pelestarian dan Pengembangan Budaya.
Suparlan, P. (1983). Manusia, Kebudayaan dan Lingkungannya: Perspektif Antropologi Budaya. In Manusia dalam Keserasian Lingkungan. Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Suryanegara, A. E. (2006). Artefak Purba dari Pasemah: Analisa Ungkap Rupa Patung Megalitik di Pasemah. Institut Teknologi Bandung.
Tim Penyusun. (1999). Metode Penelitian Arkeologi. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.
Tombrink, E. P. (1870). Hindoe-monumenten in Bovenlanden van Palembang, als bron van geschiedkundig onderzoek. Tijdschrift v. Indische Taal-, Land- en Volkenkunde Bataviaasch Genootschap v. Kunsten en Wetenschappen, 19, 1–45.
Triwuryani, R. (2006). Permukiman di Indonesia: Perspektif Arkeologi Benteng Tanah DAS Sekampung (hal. 97–101). Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.
Triwuryani, R. (2015). Arca-arca Megalitik Pasemah Sumatera Selatan: Kajian Semiotik. Universitas Indonesia.
Ullmann, L. (1850). Hindoe-beelden in de binnenlanden van Palembang. In Indisch Archief: Tijdschrift voor de Indiën (hal. 493–494). Batavia: Lange.
Westenenk, L. C. (1922). De Hindoe-oudheden in de Pasemah-Hoogvlakte (Residentie Palembang). In Oudheidkundig Verslag (hal. 31–37). Weltevreden: Albrecht en co./’s-Gravenhage.
Willey, G. R. (1974). The Viru Valley settlement pattern study. In G. R. Willey (Ed.), Archaeological Researches in Retrospect (hal. 149–178). Cambridge: Winthrop Publishers.
Yuwono, J. S. E. (2007). Kontribusi Aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) dalam Berbagai Skala Kajian Arkeologi Lansekap. Berkala Arkeologi, 2, 1–14.