Konstruksi Masyarakat Jawa Kuno terhadap Transgender Perempuan pada Abad ke 9-14 M

Authors

  • Muhamad Alnoza Departemen Arkeologi FIB UI
  • Dian Sulistyowati
DOI     10.24832/amt.v39i1.51-64

Keywords:

old javanese people, kḍi, maṅilala drabya haji, trangender-women

Abstract

Abstract. The Construction of Ancient Java Community Towards Transgender Women in The 9th-14th Centuries. Transwomen in Indonesia are easily recognized by one's physical appearance. The survey stated that 89.3% of LGBT (lesbian, gay, bisexual, and transgender) groups have experienced discrimination and violence. The views of the Indonesian people towards transgender women today are influenced by the perspectives and constructions of society in the past. This paper is to reconstruct how the perspective of the ancient Javanese society towards trans women. The
purpose of this research is to find the origin of the current Indonesian people's view of transgender women from past references. This study uses a descriptive analysis approach through the stages of data collection, analysis, and interpretation. It can be seen that the construction of society during the Javanese era considered transgender people as a group of people with disabilities. In addition to these constructions, for the royal group, trans women are part of the king's servants who have magical and political powers. Thus, trans women had an important position and privileges in the ancient Javanese kingdom. The position of transgender women can also be understood as an archipelago tradition, which places transwomen as a link between the human world and the world of gods, as can be found in bissu in South Sulawesi.

Abstrak. Golongan transpuan di Indonesia mudah dikenali melalui penampilan fisik seseorang. Survei menyebutkan bahwa 89,3% kelompok LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) telah mengalami diskriminasi dan kekerasan. Pandangan masyarakat Indonesia terhadap transpuan dewasa ini dipengaruhi oleh perspektif dan konstruksi masyarakat pada masa lalu. Tulisan ini dimaksudkan untuk merekonstruksi bagaimana perspektif masyarakat Jawa Kuno terhadap transpuan. Tujuan penelitian adalah untuk mencari permulaan pandangan masyarakat Indonesia saat ini terhadap transpuan dari referensi masa lampau. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskripsi analisis melalui tahap pengumpulan data, analisis, dan interpretasi. Dapat diketahui bahwa konstruksi masyarakat pada masa Jawa Kuno menganggap transpuan sebagai golongan disabilitas. Di samping konstruksi tersebut, bagi golongan kerajaan, transpuan merupakan bagian dari abdi raja yang memiliki kekuatan magis dan politis. Dengan demikian, transpuan memiliki posisi yang penting dan hak-hak istimewa dalam kerajaan zaman Jawa Kuno. Posisi transpuan tersebut juga dapat dipahami sebagai suatu tradisi khas Nusantara, yang menempatkan transpuan sebagai penghubung dunia manusia dan dunia dewa, sebagaimana dapat dijumpai pula pada bissu di Sulawesi Selatan.

References

Alnoza, Muhamad. 2020. “Konsep Raja Ideal Pada Masa Sriwijaya Berdasarkan Bukti-Bukti Tertulis.” Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara 11 (2): 97. https://doi.org/10.37014/jumantara.v11i2.1041.

Boechari. 2012a. “Epigrafi Dan Sejarah Kuno.” In Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti, 3–28. Jakarta: Departemen Arkeologi FIB UI.

———. 2012b. “Manfaat Studi Bahasa Dan Sastra Jawa Kuno Ditinjau Dari Segi Sejarah Dan Arkeologi.” In Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti, 29–46. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia dan EFEO.

Brandes, Jan Laurens Andries. 1913. Oud-Javaansche Oorkonden: Negalaten Transcripties. Batavia: Albrecht & Co.

Carter, Yasmin. 2009. “Through a Glass, Darkly: Clouded Perceptions of Feminist and Gender Archaeology.” Journal of the Manitoba Anthropology Students’ Association 28: 94–105.

Casparis, Johannes Gijbertus de. 1985. “Sedikit Tentang Golongan-Golongan Di Dalam Masyarakat Jawa Kuno.” Amerta II: 52–59.

Castillo-Mayén, Rosario, and Beatriz Montes-Berges. 2014. “Análisis de Los Estereotipos de Género Actuales.” Anales de Psicologia 30 (3): 1044–60. https://doi.org/10.6018/analesps.30.2.138981.

Damais, Louis-Charles. 1952. “Études d’épigraphie Indonésienne I.” Bulletin de l’Ecole Française d’Extrême-Orient 46 (1): 1–106.

Darmosoetopo, R. 1997. “Hubungan Tanah Sima Dengan Bangunan Keagamaan Di Jawa Pada Abad IX-X M.” Universitas Gadjah Mada.

Debineva, Ferena, and Dicky C. Palupessy. 2019. “Mengurangi Prasangka Negatif Terhadap Transpuan Dengan Metode Kontak Imajiner Melalui Photovoice Kepada Orang Muda Di Tangerang, Indonesia.” Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah 11 (1): 21–30. https://doi.org/10.15294/intuisi.v11i1.20113.

Deetz, James. 1967. Invitation to Archaeology. New York: The American Museum of Natural History.

Gibbon, Guy. 2013. Critically Reading the Theory and Methods of Archaeology: An Introductory Guide. Maryland: Rowman & Littlefield Publishers.

Gilrischt, Roberta. 1991. “Women’s Archaeology? Political Feminism, Gender Theory and Historical Revision.” Antiquity 65: 495–501.

Guzura, Tobias. 2017. “An Overview of Issues and Concepts in Gender Mainstreaming.” Afro Asian Journal of Social Sciences 8 (1): 1–21.

Haryono, Timbul. 1999. “Sang Hyang Watu Teas Dan Sang Hyang Watu Kulumpang: Perlengkapan Ritual Upacara Penetapan Sima Pada Masa Kerajaan Mataram Kuna.” Humaniora 12: 14–21.

Jandra, Mifedwil. 1990. Perangkat/Alat-Alat Dan Pakaian Serta Makna Simbolis Upacara Keagamaan Di Lingkungan Kraton Yogyakarta. Yogyakarta: Depdikbud.

Karman. 2015. “Konstruksi Realitas Sosial Sebagai Gerakan Pemikiran (Sebuah Telaah Teoritis Terhadap Konstruksi Realitas Peter L. Berger).” Jurnal Penelitian Dan Pengembangan Komunikasi Dan Informatika 5 (3): 11–23.

Kartikaningdriyani, Inestya. 2019. “Heteronormativitas, Wacana LGBT Dan Perjuangan Komunitas Waria Melawan Stigma.” Jurnal Pemikiran Sosiologi 6 (2): 191–209.

Levi, Jennifer L., and Bennet H. Klein. 2007. “Pursuing Protection for Transgender People through Disability Laws.” In Transgender Rights, edited by Peisley Currah, Richard M. Juang, and Shannon Price Minter, 74–92. Minnesota: University of Minnesota Press.

Light, Kate. 2017. Gender Identity: The Search for Self. New York: Greenhaven Publishing.

Mabbet, Ian W. 1969. “Devarāja.” Journal of Southeast Asian History 10 (2): 202–23.

Magetsari, Noerhadi. 2016. “Manunggaling Kawulo Gusti: Kajian Terhadap Sang Hyang Kamahanayikan Dan Jňāsiddhānta.” In Perspektif Arkeologi Masa Kini: Dalam Konteks Indonesia, 123–30. Jakarta: Kompas Media Nusantara.

Mcdermott, Rose, and Peter K. Hatemi. 2011. “Distinguishing Sex and Gender.” Political Science and Politics 44 (1): 89–92.

Muljana, Slamet. 1967. Perundang-Undangan Madjapahit. Djakarta: Bharatara.

Munandar, Agus Aris. 2014. “Perkembangan Kebudayaan Indonesia Klasik.” In Mitra Satata: Kajian Asia Tenggara Kuna, edited by Agus Aris Munandar, 171–220. Jakarta: Wedatama Widyasastra.

Nastiti, Titi Surti. 2009. “Kedudukan Dan Peranan Perempuan Dalam Masyarakat Jawa Kuno (Abad VIII-XV Masehi).” Universitas Indonesia.

Said, Muhammad. 2016. “Peran Bissu Pada Masyarakat Bugis.” In Seminar Nasional Pendidikan Ilmu-Ilmu Sosial Membentuk Karakter Bangsa Dalam Rangka Daya Saing Global, 69–78. Makassar: Universitas Negeri Makassar.

Suastika, I Made. 2017. “Mahabharata Dalam Tradisi Dan Penciptaan Sastra Bali.” In Prosiding Seminar Nasional Sastra Dan Budaya II, 222–36. Denpasar: Universitas Udayana.

Sudaryanto, Agus. 2008. “Hak Dan Kewajiban Abdi Dalem Dalam Pemerintahan Kraton Yogyakarta.” Mimbar Hukum 20 (1): 163–77.

Sudharta, Tjokorda Rai. 2003. Slokantara: Untaian Ajaran Etika Teks, Terjemahan Dan Ulasan. Surabaya: Paramita.

Tuuk, H.N. van der. 1912. Kawi-Balineesch-Nederlandsche Woordenbook. Batavia: Landsdrukkerij.

Zastrow, Charles. 2010. Introduction to Social Work and Social Walfare. Belmont: Brooks-Cole Publishers.

Zoetmulder, Petrus Josephus. 1982. Kamus Bahasa Jawa Kuno. Jakarta: Gramedia Pustaka.

———. 1985. Kalangwan: Sasta Jawa Kuno Selayang Pandang. Jakarta: Penerbit Djambatan.

Published

2021-07-13

How to Cite

Muhamad Alnoza, and Dian Sulistyowati. 2021. “Konstruksi Masyarakat Jawa Kuno Terhadap Transgender Perempuan Pada Abad Ke 9-14 M”. AMERTA 39 (1):51-64. https://doi.org/10.24832/amt.v39i1.51-64.

Issue

Section

Articles