Pertimbangan Pemilihan Lokasi Kompleks Candi Dieng

  • Harriyadi Harriyadi Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
Keywords: Dieng temple Compounds, Site Selection, Locational Analysis, Kompleks Candi Dieng, Pemilihan lokasi, Analisis Lokasional

Abstract

Abstract, Dieng Plateau is a highland area with an elevation between 2.000-2.100 meters above sea levels and has been used by people since the Hindu Buddhist period to carry out religious rituals. Its location has extreme weather conditions, complicated accessibility, and the threat of eruption from its volcanic mountains. Nevertheless, the conditions do not deter people to build temple compounds in Dieng Plateau. This research conduct to determine the factors underlying the Dieng Plateau as an area to build temple compounds. This research uses locational analysis which emphasizes two aspects are physical landscape and religious conceptual data. Both data are analyzed and synthesized to get factors regarding sacred and profane spaces that have considered in site selection. The results showed that although the Dieng Plateau provides a variety of natural resources that can be used to people’s needs. The physical landscape of the Dieng plateau is an embodiment of the concept of tirtha or the journey from \profane to sacred space. A journey that has the meaning of self-purification to achieve moksha. Elevation of location is a symbol of the axis mundi or intersection between the human world and the world of god. Religious factors seem to be quite dominant in the consideration of choosing the location of the Dieng Temple Complex.

 

Abstrak, Dataran tinggi Dieng merupakan kawasan dataran tinggi dengan elevasi antara 2.000-2100 m.dpl. dan telah digunakan oleh masyarakat sejak masa Hindu Buddha untuk melakukan ritual keagamaan. Kawasan ini memiliki kondisi cuaca ekstrim, aksesbilitas rumit, dan ancaman bencana erupsi dari pegunungan api Dieng. Meskipun demikian, kondisi alam tersebut tidak menghalangi masyarakat untuk mendirikan kompleks bangunan suci di dataran tinggi Dieng. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor–faktor yang melatarbelakangi dipilihnya dataran tinggi Dieng sebagai tempat untuk melakukan ritual keagamaan. pendekatan yang dipakai adalah analisis lokasional yang menekankan pada dua variabel, yaitu lanskap fisik dan konsep keagamaan. Kedua data dari variabel kemudian dianalisis dan disintesiskan untuk mendapat faktor yang dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dataran tinggi Dieng merupakan perwujudan dari konsep lokasi, ruang, dan tempat sakral dalam agama Hindu. Lanskap fisik dataran tinggi Dieng merupakan perwujudan dari konsep tirtha atau perjalanan dari dunia profan menuju dunia sakral. Perjalanan yang memiliki makna penyucian diri untuk mencapai moksha. Lokasinya yang tinggi merupakan lambang dari axis mundi atau persinggungan antara dunia manusia dan dunia kedewataan. Faktor keagamaan nampaknya menjadi faktor yang cukup dominan dalam pertimbangan pemilihan lokasi Kompleks Candi Dieng.

References

Ahimsa-Putra, Heddy Shri. 1995. “Arkeologi Pemukiman: Titik Strategis dan Beberapa Paradigma.” Berkala Arkeologi Edisi Khusus, tahun XV, hal : 10–23.

Badan Geologi. 2014. “Data Dasar Gunungapi Indonesia: Gunung Dieng, Jawa Tengah.” Data Dasar Gunungapi Indonesia: Gunung Dieng, Jawa Tengah. 2014. Diunduh dari http://www.vsi.esdm.go.id/index.php/gunungapi/data-dasar-gunungapi/531-g-dieng.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Banjarnegara. 2010. “Buku Putih Sanitasi Kabupaten Banjarnegara.” Banjarnegara.

Boner, Alice and Sadasiva Rath Sarma. 1966. Silpaprakasa. Leiden: E.J. Brill.

Christie, Jan Wisseman. 1999. “Register of the Inscription of Java 732 – 1060 A.D.”

———. 2000. Register of the Inscriptions of Java 732-1060 A.D. Unpulished Consultation Draft 2.

Dharmosoetopo, Riboet. 2003. Sima dan Bangunan Keagamaan di Jawa Pada Abad IX-X TU. Yogyakarta: Prana Pena.

Drajat, Hari Untoro. 1997. “Studi Pemintakatan Situs Kompleks Percandian Dieng”. Laporan Penelitian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan. Jakarta: Suaka Peninggalan Situs Purbakala.

Eliade, Miracea. 1959. The Sacred amd Profane: The Nature of Religion. New York: A Harvest Book Harcourt, Brace & World. Inc.

Geldern, Robert von Heine. 1982. Konsepsi tentang Negara dan Kedudukan Raja di Asia Tenggara. Jakarta: CV Rajawali.

Hardiati, Endang Sri. 1994. “Classical Period of the Indonesian Culture” dalam buku Aspects of Indonesian Archaeology No. 15 (Classical Period of the Indonesian Culture), hal : 1–23.

Harriyadi. 2016. “Latar Belakang Pemilihan Lokasi Situs-Situs Klasik Abad VIII-IX Di Plato Dieng”. Skripsi Sarjana Jurusan Arkeologi FIB Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Indradjaja, Agustijanto dan Veronique Degroot. 2014. “Early Traces Hindu-Buddhist Influence along the North Coast of Central Java: Archaeological Survey of the District of Batang.” Amerta Vol. 32 (1) hal : 1–76.

Jones, A.M.B. 1984. Early Tenth Century Java from the Inscription. Holland: Foris Publications.

Junghuhn, Franz Wilhelm. 1845. Topografische Undnaturwissenchaftliche Reise Durch Java. Baensch: Magdeburg.

Kak, Subhash. 2002. “Space and Cosmology in the Hindu Temple.” In International Symposium on Science and Technology in Ancient Indian Monuments. New Delhi.

Kempers, August Johan Bernet. 1959. Ancient Indonesian Art. Cambridge: Harvard University Press.

Kramrisch, Stella. 1946. The Hindu Temple. Volume I. Calcutta: University of Calcutta.

Krom, Nicholaas Johannes. 1920. Inleiding Tot de Hindoe-Javaansche Kunst. Leiden: Martinus Nijhoff.

Kusumadinata. 1979. “Vulcanological Survey of Indonesia.” Jakarta: Direktorat Vulkanologi Departemen Pertambangan dan Energi.

Libert, Gosta. 1976. Iconographic Dictionary of the Indian Religions: Studies in Southeast Asian Culture. Leiden: E.J. Brill.

Maulana, Ratnaesih. 1993. “Siwa dalam Berbagai Wujud: Suatu Analisis Ikonografi di Jawa Masa Hindu- Budha”. Disertasi Fakultas Sastra UI. Jakarta: Universitas Indonesia.

Mundardjito. 1996. Pertimbangan Ekologis Situs Masa Hindu-Buda Di Daerah Yogyakarta: Kajian Arkeologi Ruang Semi-Mikro. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.

Munir, Moch. 1996. Tanah-Tanah Utama Indonesia, Karakteristik, Klasifikasi, dan Pemanfaatannya. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya.

Nakada, Kozo. 1982. The Inventory of the Dated Inscription in Java. The MTB Off-Prints Series No. 27. Vol. 27. Tokyo: Toyo Bunko.

Notulen. 1867. “Bestuurs-Vegadering van Dinsdag.” Notulen van Het Bataviaasch Genootschap X. X.

Oudheidkundige Dienst in Nederlandsch-Indië. 1915. “Rapporten Oudheidkundige Dienst in Nederlandsch-Indië”. Batavia.

Pudjoarinto, Agus. 1999. “Interpretasi Palinologi Pengaruh Aktivitas Manusia terhadap Flora dan Vegetasi di Pegunungan Dieng.” Berkala Ilmiah Biologi, Vol. 2, hal : 329–42.

Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. 1999. Metode Penelitian Arkeologi. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Departemen Pendidikan Nasional.

Ragavan, Deena. 2013. “Heaven on Earth: Temples, Ritual, and Cosmic Symbolism in the Anciet World”. dalam Deena Ragavan (ed). Chicago: The Oriental Institute.

Rohadi, Slamet. 2006. “Kajian Pengembangan Dieng Plateau Berbasis Pariwisata Berkelanjutan” Tesis Pascasarjana Ilmu Kehutanan Fakultas Kehutanan UGM. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Sahulman, David Dean. 1980. Tamil Temple Myths: Sacrifice and Divine Marriage in the South India Saiva Tradition. New Jersey: Princeton University Press.

Sarkar, H. B. 1972. Corpus of the Inscription of Java. II. Calcutta: Firma Mukhopadhyay.

Soebroto, Ph. 1973. “Kompleks Candi Dieng”. Yogyakarta: Fakultas Keguruan Ilmu Sosial IKIP Yogyakarta.

Sonjaya, Jajang Agus. 2005. “Pengelolaan Warisan Budaya di Dataran Tinggi Dieng”. Tesis Pascasarjana Jurusan Arkeologi FIB UGM. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Sumedi, Nur. 2013. Strategi Pengelolaan Ekosistem Gunung: Menjaga dan Merawat Kehidupan. Kalimantan Timur: Balai Penelitian Teknologi Konservasi Sumber Daya Alam.

Tilley, Christopher. 1994. A Phenomenology of Landscape: Place, Paths, and Monuments. the United Kingdom: WBC Bookbinders.

Umbgrove, J.H.F. 1930. “Het Onststaan van Het Dieng Plateau.” Leidshe Geologische Mededeelingen 3: 131–49.

Wirjosuparto, Soetjipto. 1957. Sejarah Bangunan Kuna Dieng. Jakarta: Kalimasodo.

Wurjantoro, Edhie. 2012. Prasasti Berbahasa Jawa Kuno Abad Viii – X Masehi Koleksi Museum Nasional Jakarta (Alih Aksara dan Terjemahan). Jakarta: Museum Nasional Indonesia.

Published
2020-02-14
Section
Articles