Kubur Batu sebagai Identitas Diri Masyarakat Sumba: bukti keberlanjutan budaya megalitik di Anakalang, Sumba Tengah

  • Retno Handini Universitas Indonesia
Keywords: kubur batu, megalitik, Anakalang, Sumba

Abstract

The study of the stone grave in Anakalang aims to find out the position of the stone grave in the Sumba community. The research methods carried out were participation observation, in-depth interviews, and literature studies. In-depth interview techniques were carried out on key informants, namely traditional elders, marapu leaders (rato), leaders of tengi watu (paaung watu), and the organizers of the pulling stone ritual. The results of the study show that the stone grave is a key artifact that has served as the identity of the Sumba people since hundreds of years ago. The stone grave in Anakalang has an irreplaceable function to date even though it began to be known as cement graves. The establishment of stone graves and the ritual of pulling stones are united in the daily lives of the Anakalang people with a background of religious conceptions which are seen as ancestral heritage that must be held firmly. The variety of megalithic cultures on Sumba has penetrated the time period in a theoretical way, and continues to this day as a tradition. Sacrifice, dedication, and respect for ancestors is the answer to why Sumba people, especially Anakalang, still maintain the existence of stone graves.

Penelitian kubur batu di Anakalang bertujuan untuk mengetahui posisi kubur batu pada masyarakat Sumba. Metode penelitian yang dilakukan adalah observasi partisipasi, wawancara mendalam, dan studi pustaka. Teknik wawancara mendalam dilakukan terhadap para informan kunci, yakni tetua/tokoh adat, pemimpin marapu (rato), pemimpin tengi watu (paaung watu), dan pihak penyelenggara ritual tarik batu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kubur batu adalah artefak kunci yang berperan sebagai identitas diri masyarakat Sumba sejak ratusan tahun lalu sampai sekarang. Kubur batu di Anakalang memiliki fungsi yang tidak tergantikan sampai saat ini meski mulai dikenal kubur dari semen. Pendirian kubur batu dan ritual tarik batu menyatu dalam keseharian masyarakat Anakalang dengan latar belakang konsepsi religi yang dipandang sebagai warisan nenek moyang yang harus dipegang teguh. Ragam budaya megalitik di Sumba telah menembus batas periode waktu secara teoretis dan berlangsung hingga kini sebagai sebuah tradisi. Pengorbanan, dedikasi, dan rasa hormat pada leluhur adalah jawaban mengapa masyarakat Sumba, khususnya Anakalang, tetap mempertahankan keberadaan kubur batu.

Author Biography

Retno Handini, Universitas Indonesia
Mahasiswa Program Pascasarjana Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia

References

Adams, Ron. 2010. “Megalithic Tombs, Power and Social Relation in West Sumba, Indonesia”. Monumental Question, Prehistoric Megalith, Mouns and Enclosures. England. Publisher of British Archaeological Reports.

Binford, Lewis R. 1972. An Archaeological Perspective. New York: Seminar Press. Binford, L.R. 1983. In Pursuit of the Past :

Decoding the archaeological record. New York: Academic Press.

Durkheim, Emile. 1893. The Division of Labor in Society. Edited by Steven Lukas. Palgrave Macmillan.

Fortes, Meyer. 2005. Kinship and the Social Order. Somerset: Transaction Publisher.

Gould, R. dan MB. Schiffer (eds). 1981. Modern Material Culture: The Archaeology of Us. New York: Academic Press.

Gunawan, Istutiah. 2000. Hierarchy and Balance: A Study of Wanokaka Social Organization. Canberra: Australia Department of Anthropology.

Handini, Retno. 2008. “Pulling Stone Ceremony During Megalithic Stone Grave Construction in West Sumba”. Sharing Our Archaeological Heritage. Johor Bahru, Malaysia: Yayasan Warisan Johor. p.182--193.

Heine-Geldern, Robert von. 1945. “Prehistoric Research in the Netherlands Ïndies”, Science and Scentists in the Netherlands Indies. New York: Southeast Asia Institute.

Ingold, Tim. 2007. MaterialsAgainst materiality. Archaeological Dialogues. Cambridge University Press.

Ingold, Tim. 2012. Towards an Ecology Materials. Indianapolis. Indiana University

Kusumawati. 1993. “Konsepsi dalam Penguburan Penganut Marapu di Sumba”. Forum Arkeologi, Vol 6. Denpasar: Balai Arkeologi Denpasar.

Prasetyo, Bagyo. 2013. “Persebaran dan Bentuk- Bentuk Megalitik Indonesia: Sebuah Pendekatan Kawasan”. Kalpataru vol 22. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Prasetyo, Bagyo. 2015b. Pernak-Pernik Megalitik Nusantara. Yogyakarta: Galang Press.

Prasetyo,Bagyo (ed).2015a. Eksotisme Megalitik Nusantara. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Rudyansjah, Tony. 2014. Emile Durkheim, Pemikiran Utama dan Percabangannya ke Radcliffe-Brown, Fortes, Levi-Strauss, Turner, dan Holbraad. Jakarta: Kompas Media Nusantara.

Soejono, R.P. (ed) 1984. Sejarah Nasional Indonesia I, Jakarta: Balai Pustaka.

Sukendar, Harris. 2003. Masyarakat Sumba dengan Budaya Megalitiknya. Jakarta: Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata, Deputi Bidang Pelestarian dan Pengembangan Budaya Pusat Penelitian Arkeologi.

Tanudirjo, Daud Aris. 2009. “Memikirkan Kembali Etnoarkeologi”. Papua vol 1. No 2. Jayapura. Balai Arkeologi Jayapura.

Yuniawati, Dwi Yani. 1992. “Tinjauan Mengenai Kubur Dolmen di Sumba Barat”. Skripsi. Denpasar. Universitas Udayana.

Published
2019-07-08
How to Cite
Handini, Retno. 2019. “Kubur Batu Sebagai Identitas Diri Masyarakat Sumba: Bukti Keberlanjutan Budaya Megalitik Di Anakalang, Sumba Tengah”. AMERTA 37 (1), 18-26. https://doi.org/10.24832/amt.v37i1.18-26.
Section
Articles