KONFLIK HORISONTAL WARISAN BUDAYA, MEGALITIK SITUS GUNUNG PADANG

Bambang Sulistyanto

Abstract


Abstrak.

 

Konflik warisan budaya Situs Gunung Padang merupakan isu baru yang muncul pada 2012, akibat perbedaan dalam memaknai warisan budaya. Bagi kalangan arkeologi, Gunung Padang hanyalah situs megalitik “biasa” yang dikenal dengan istilah punden berundak. Tetapi bagi Tim Terpadu Riset Mandiri, Situs Gunung Padang adalah piramida dan diduga berusia jauh lebih tua dari Piramida Mesir. Konflik horisontal Gunung Padang adalah konflik perbedaan paradigma arkeologi yang berdampak pada perbedaan pandangan dalam menafsirkan keberadaan tinggalan budaya.
Konflik tersebut, merupakan konflik murni yang terbatas pada ranah kepentingan Ilmu Pengetahuan tanpa ada intervensi oleh berbagai faktor, termasuk faktor politis. Disisi lain arkeologi sudah lama menjadi ajang pergulatan pemikiran para ahli. Salah satu faktor penyebabnya adalah karena kajian pokok arkeologi bersifat post-facto yang terjadi tidak sekarang, tetapi ratusan bahkan ribuan atau jutaan tahun silam. Pada sisi lain, namanya pengetahuan itu sebenarnya bersifat relatif dan subyektif,
karena telah dipengaruhi oleh berbagai kepentingan. Oleh karena itu, pengetahuan yang benar atau realitas masa lampau itu tidak ada, yang ada hanyalah pengetahuan masa lampau versi masyarakat masa kini. Perdebatan dalam ranah ilmu pengetahuan merupakan hal yang biasa. Jika konflik Gunung Padang dapat diselesaikan dengan benar, justru akan memberikan manfaat, salah satunya mendorong ke arah perubahan yang lebih baik.

 


Abstract. Horizontal Conflict Regarding A Cultural Heritage: The Megalithic Site of Gunung
Padang.

 

Conflict about a cultural heritage, Gunung Padang Site, is a new issue that surfaced in 2012 due to different views in interpreting a cultural heritage. To archaeologists, Gunung Padangis a “typical” megalithic site, which is known as terraced structure. However, to Tim Terpadu Riset Mandiri (Integrated Team of Independent Research), it was a pyramid much older than the ones in Egypt. The horizontal conflict about Gunung Padang is a conflict caused by different archaeological paradigms, which impacted on different views in interpreting the existence of cultural remains. It is a
purely conflict, which scope is limited to the domain of Academic purposes with no interventions from various factors, including political factor. Archaeology has long been an arena of debates by experts. One of the reasons is because the main study of archaeology is post-facto – does not happen in recent time, but hundreds and even thousands and millions of years ago. On the other hand, knowledge/science is relative and subjective in nature because it is influenced by various interests. Therefore there is no true knowledge/science or reality of the past. What exists is knowledge about the past according to present-day people. Debates in knowledge/science domain are natural. In fact, if the conflict about Gunung Padang can be resolved in the right way, it will be a benefit, among others it will lead to a change for the better.


Keywords


Gunung Padang, Megalithic, Conflict, Difference, Interpretation.

Full Text:

PDF

References


Abdurrachman, Sukri. 2004. “Kawasan Pariwisata dan Konflik Pertanahan”, dalam Sukri Abdurachman (ed.) Konflik

Pertanahan di Era Reformasi: Hukum Negara, Hukum Adat dan Tuntutan Rakyat. Jakarta: Puslit Kemasyarakatan dan Kebudayaan-LIPI.

Akbar, Ali. 2013. Situs Gunung Padang Misteri dan Arkeologi. Jakarta: Change Publication.

Bronto, Sutikno. 2012. “Gunung Padang Berdasarkan Pandangan Geologi Gunung Api”. Makalah disampaikan pada Rembuk Nasional Situs Gunung Padang, Jakarta, Pusat Penelitian Arkeollogi Nasional, 29 Maret 2012.

Coser, Lewis A. 1994. The Functions of Social Conflict. New York:Academic Press, Inc.

Cleere, Henry F 1989. “Introduction: the Rationale of Archaeological

Management”, dalam Henry F. Cleere (ed.), Archaeological heritage

management in the modern world: 5-10. London: Unwwin-Hyman.

Fisher, Simon. 2002. Working with Conflict: skill et strategis for Action. London: zed Books Ltd, 7 Cynthia Street. Telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Mengelola

Konflik: Ketrampilan dan Strategi untuk bertindak: British Council, 2001.

Hilman, Danny Natawijaya. 2011. “Aplikasi Metode Geologi dalam Riset Bencana Katastropis Purba”. Makalah disampaikan pada Rembuk Nasional Situs Gunung Padang, Jakarta, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, 29 Maret 2012.

Hodder, Ian. 1991a. “Post-modernism, postsructuralism, and post-processual archaeology” dalam Ian Hodder (ed) The Meaning of Things. London, Harper Collins.

Hodder, Ian. 1991b. Reading The Past. Cambridge: University Press.

Ju Lan Thung. 2005. “Program Manajemen dan Tranformasi Konflik LIPI”, dalam Anwar Dewi Fortuna (ed.), Konflik Kekerasan Internal, Tinjauan Sejarah, Ekonomi, Politik dan Kebijakan di Asia Pasifik. Jakarta: Yayasan Obor.

Kiesberg, Louis. 1992. Social Conflict, Second Edition Englewood Clifft, N.Y:Prentice Hall, Inc.

Kleden, Ignas. 1998. Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan. Cet. 1. Jakarta: LP3ES.

Kreitner, Robert, dan Angelo Kinicki. 1995. Organizational Behavior. Chicago: Irwin.

Luthans, Fred. 1985. Organizational Behavior. New York: McGraw-HillBook Company.

Lauer, H. Robert. 1993. Perspektif Tentang Perubahan Sosial .TerjemahanAlimandan dari Judul asli Perspectives on Social Change. Jakarta: Asdi Mahasatya.

Nimpoeno, S. John. 1980, “Fungsi Warisan Sebagai Pembentuk Sikap Terhadap Pembangunan”, dalam Analisis Kebudayaan Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan: 26-31.

Nugroho, Fera, Kana, L, Nico dan Prajarto Dirdjosanyoto. 2004. Konflik dan Kekerasan pada Aras Lokal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Macleod, D. G. 1977. “Peddle or perish: archaeological marketing from concept to product delivery”, dalam Michael B. Schiffer dan George J. Gummerman (eds.), Conservation Archaeology. New York : Academic Press.

Pruit, G. Dean, dan Rubin Z. Jeffrey. 2004. Teori Konflik sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Terjemahan dari Social Conlict, Escalation, Statemen, and Setlemen. New York: McGraw-Hill, Inc 1986.

Raven, B.H., dan Rubin, J.Z. 1983. Social Psychology 2nd. New York: Wiley.

Renfrew, C. dan P. Bahn, 1991. Archaeology: theories, methods and practice. London: Thames and Hudson.

Robbins, Stephen P. 1996. Organizational Behavior: Concepts, Controversies, and Applications. USA: Prentice-Hall International Editions.

Shank, Michael. 1992. Eksperiencing the pas. London: Routege.

Tim Peneliti. 2012. “Penelitian Arkeologi Situs Gunung Padang, Kabupaten Cianjur”, Laporan Penelitian Arkeologi. Pusat Arkeologi Nasional. (tidak terbit).

Thomas, David Hurst. 1989. Archaeology Worth, Hold, Rinchart and Winston.

Tilley, Christopher. 1993. Interpretation and Poelitics of the past, dalam Christopher Tilley, Interpretative Archaeology. Providence: Berg.

Simanjuntak, Harry Truman. 2012. “Piramida Jawa Barat dan Peradaban Atlantis Sundaland Itu Tidak Ada.” Makalah disampaikan pada Rembuk Nasional Situs Gunung Padang, Jakarta, Pusat

Penelitian Arkeollogi Nasional, 29 Maret 2012.

Stoner, A.F., James dan Freeman, R., Edward. 1989. Management. Prentice- Hall, New York, hal. 391-392.

Sukendar, Haris. 2001. Peninggalan Tradisi Megalitik di Daerah Cianjur, Jawa Barat. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Sulistyanto, Bambang. 2006. “The pattern of conflict of benefeting in Indonesia”, di dalam: Truman Simanjuntak. dkk (ed.), Archaeology; Indonesian Perspective; R.P. Soejono’s festschrift: 577-594 Jakarta: LIPI Press.

-----------. 2008. Resolusi Konflik dalam Manajemen Warisan Budaya Situs Sangiran. Disertasi Universitas Indonesia. (tidak terbit).

Tanudirjo, Daud Aris. 1997/1998. “Arkeologi Pasca-Modernisme untuk Direnungkan” dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi VII, Jilid 2. Cipanas, 12 -16 Maret 1996. Jakarta: Proyek Penelitian Arkeologi.

Yoffee, N dan Seratt. 1993. “Introduction the sources of archaeology theory”, dalam Yoffee, N dan Seratt (eds.), Archaeological theory who set the agenda? Cambridge University Press.




DOI: http://dx.doi.org/10.24832/amt.v32i1.384
Article Metrics

Abstract views: 77 | PDF views: 87 | Total views: 164




Copyright (c) 2018 AMERTA

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

AMERTA INDEXED BY:

Copyright of AMERTA (e-ISSN 2549-8908 p-ISSN 0215-1324). Powered by OJS. ©Designed by Mujab.

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.