RE-INTERPRETASI NAMA CANDI BOROBUDUR

Titi Surti Nastiti

Abstract


Abstract. Re-Interpretation the Name of Borobudur Temple.

Borobudur temple is the largest Mahāyana Buddhist temple in Indonesia built in the 8th century. The origin of the name Borobudur is still debated until today, therefore it is necessary to review the origin of the name of Borobudur. Thera are plenty of scholars from Indonesia and the Netherlands that hypothesised  around the origin of the name. A few scholars thought the name originated from the word boro which means monastery and there is no agreement yet on the definitation of the word "budur". There are those who defined budur as big, buddha, or hill. According to J.G. de Casparis, he theorised that Borobudur came from the word bhūmisambhārabūdhara which means "hill of the accumulation of virtues on the ten stages of Boddhisattva". If we look at it from the textual context budur is a name for a kind of palm tree and tuak (a kind of wine) is also made from buḍur tree. There many places in Java that originated from the name of a tree such as Jombang, Gebang, Kampung Rambutan, Kebon Nanas, so it can also be theorised that budur is derived from the name of a tree that was made into a name of place. This research used comparative methods with etymology approach. From this research we conclude that Borobudur originated from two words boro and budur. Boro from vihara is  monastery and budur is the name of the village that was derived from the name of a tree, the budur tree. Therefore Borobudur is name for a monastery located in Budur Village. 

  

Abstrak

Candi Borobudur merupakan candi Buddha Māhāyana terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad ke-8. Mengingat bahwa sampai sekarang nama Borobudur masih menjadi bahan perdebatan, dirasakan perlu untuk mengkaji kembali mengenai asal-usul nama Borobudur. Banyak sarjana Belanda dan Indonesia yang telah membuat hipotesis mengenai nama Borobudur. Beberapa sarjana mengartikan kata boro dengan ‘biara’, sedangkan kata budur masih belum ada kesepahaman. Ada yang mengartikannya ‘besar’, buddha berarti ‘bukit’ sehingga Borobudur bisa diartikan ‘biara yang agung’, ‘kota Buddha’, dan ‘biara di atas bukit’. Namun, J.G. de Casparis mempunyai asumsi yang berbeda. Ia menyebutkan bahwa Borobudur berasal dari kata bhūmisambhārabūdhara yang artinya ‘bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan Boddhisattwa’. Di pihak lain, dalam data tekstual dikatakan bahwa budur adalah nama pohon sejenis palem dan nama tuak yang terbuat dari pohon budur. Karena banyak nama tempat di Jawa yang memakai nama pohon, seperti jombang, gebang, kampung rambutan, kebon nanas, kemungkinan besar budur adalah nama tumbuhan yang menjadi nama tempat. Dalam penelusuran nama Borobudur dipakai metode komparatif dengan pendekatan etimologi. Dari kajian ini diketahui bahwa nama Borobudur berasal dari dua kata, yaitu boro dan budur. Boro berasal dari kata biara dan budur adalah nama desa yang diambil dari nama tumbuhan, yaitu pohon budur. Dengan demikian, Borobudur dapat diartikan ‘biara yang terletak di Desa Budur’.


Keywords


Candi Borobudur, Buddha Mahāyana, Boro, Buḍur

Full Text:

PDF_INDONESIA

References


Anom, I.G.N. (ed.). 2005. The Restoration of Borobudur. Paris: The United Nations Educational Scientific, and Cultural Organization.

Berg, C.C. 1931. “Kidung Harsa-Wijaya. Middle-Javaansche historische roman”, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 88:1-238.

Boechari. 1982. “Preliminary Report on Some Archaeological Finds Around the Borobudur Temple”, Pelita Borobudur, Seri CC No.6. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Brandes, J.L.A. 1901. “Twee oude berichten over de Baraboedoer”, Tijdschrift van het Bataviaasch Genootschaap 44:73-84.

de Casparis, J.G. 1950. “Inscriptie uit de Çailendra-tijd”, Prasasti Indonesia I. Bandung: A.C. Nix & Co.

Juynboll, H.H. 1906. Ādiparwa. Oudjavaanch prozageschrift. s‘Gravenhage: M. Nijhoff.

Miksic, John. 1990. Borobudur. Golden Tales of the Buddhas. Berkeley-Singapore: Periplus Editions.

Kempers, A.J. Bernet. 1976. Ageless Borobudur. Buddhist Mistery in Stone Decay and Restoration Mendut and Pawon Folklife in Ancient Java. UK: Fine Books Ltd.

Krom, N.J. 1920. Inleideing tot de Hindoe Javaansche Kunst, volume 1. ‘s-Gravenhage. Martinus Nijhoff.

Moens, J.L. 1951. “Barabudur, Mendut en Pawon en hun onderlinga samenhang, I-II”, Tijdschrift voor Indische Taal-, Land-en Volkenkunde, 84:326-387.

Mulyana, Slamet. 2006. Sriwijaya. Yogyakarta: LkiS. Cetakan pertama.

Mundardjito. 2014.”Penggalian di Situs Candi Borobudur Sebelum Mulai Direnovasi”, Dalam Marsis Sutopo (ed.) 200 Tahun Penemuan Candi Borobudur, hal. 64-76. Borobudur: Balai Konservasi Borobudur.

Nastiti, Titi Surti. 1989. “Minuman pada Masyarakat Jawa Kuno”, Proceeding Pertemuan Ilmiah Arkeologi V. II.B. Kajian Arkeologi Indonesia: 83-95. Jakarta: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia.

-------. 2014. “Penemuan dan Penyelamatan Candi Borobudur”. Dalam Marsis Sutopo (ed.) 200 Tahun Penemuan Candi Borobudur, hal. 24-28. Borobudur: Balai Konservasi Borobudur.

-------. 2015. “Miniature Stūpa and a Buddhist Sealing from Candi Gentong, Trowulan, Mojokerto, East Java”. Dalam Christian Lammert Buddhist Dynamics in Premodern and Early Modern Southeast Asia, hal. 120-137. Singapore: Institute of Sotheast Asian Studies.

Olthof, W.L. 1941. Babad Tanah Djawi. In Proza Javaansche Geschiedenis. ‘s-Gravenhage: M. Nijhoff.

Pigeaud, Th.G.Th. 1960. Java in the Fourteenth Century: A Study in Cultural History. The Nagara-Kertagama by Rakawi Prapañca of Majapahit, 1365 A.D, volume I. The Hague: Martinus Nijhoff.

Poerbatjaraka, R.M.Ng. 1919. Handelingen van en eerste congres voor de Taal-, Land-en Volkenkunde van Java (Proceedings of the first Congress For Linguistics, Geography and Ethnografy), Solo.

---------. 1926. “De Calon Arang”, Bijdragen tot de Taal-, Land, en Volkenkunde 82:110-180.

Raffles, Sir Stamford. 1817. History of Java. 2 volume. London: Cox Baylis.

Ramelan, Wiwin Djuwita Sudjana (ed.). 2015. Candi Indonesia. Seri Jawa. Jakarta: Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Cetakan kedua.

Sedyawati, Edi dan Nunus Supardi. 2014. “Pemugaran Candi Borobudur Pertama oleh Theodor van Erp”, Dalam Marsis Sutopo (ed.) 200 Tahun Penemuan Candi Borobudur, hal. 47-53. Borobudur: Balai Konservasi Borobudur.

Soekmono. 1972. Pelita Borobudur, Seri A No.1. Jakarta: Proyek Pelita Restorasi Candi Borobudur, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

---------. 1976. Chandi Borobudur. Assen/Amsterdam: The Unesco Press.

Treffy, Diana et al. (ed.). 2003. English Dictionary & Thesaurus. 21st Century Edition. Glasgow, Great Britain: HarperCollins Publisher.

Stutterheim, W.F. 1929. Tjandi Bara-boedoer, Naam, Vorm, Bettekenis. Weltevreden: Druk G. Koelf & Co.

---------. 1956. Studies in Indonesian Archaeology. The Hague: Martinus Nijhoff.

Zoetmulder, P.J. 2004. Kamus Jawa Kuna. Jakarta: PT Gramedia. Cetakan keempat.




DOI: http://dx.doi.org/10.24832/amt.v36i1.326
Article Metrics

Abstract views: 203 | PDF_INDONESIA views: 186 | Total views: 389




Copyright (c) 2018 AMERTA

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

AMERTA INDEXED BY:

Copyright of AMERTA (e-ISSN 2549-8908 p-ISSN 0215-1324). Powered by OJS. ©Designed by Mujab.

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.