Bhima dan “Toya Pawitra” dalam Cerita Dewa Ruci

Hariani Santiko

Abstract


Abstract. Bhima and "Toya Pawitra" in The Dewa Ruci Story.

A number of statues and also reliefs of Bhima were found at the slope of mountains nearby the terrace sanctuaries from the Majapahit era. Besides the artefactual data, there is also a story known as Dewa Ruci, telling about Bhima being told by Drona to go to Candramuka Mountain and also to the wide ocean in search of the water of life (“toya pawitra”). Suddenly he met Dewa Ruci, who looks like Bhima but much smaller. Dewa Ruci explains to Bhima about the doctrine of the perfect life according to Śaiwasiddhanta teaching, and also the relationship between man, God and universe in terms of monistic mysticism. The purpose of writing this article is to find out the result of the meeting between Bhima and Dewa Ruci. In this case I use the Historical-Archaeology and also the phenomenology method to understand the symptoms within culture, including archaeology. By talking to his Guru, Dewa Ruci, Bhima the ordinary Pandawa’s warrior became a Divine Guru in the world, who can give guidance to men who want to attain eternal unity between Servant and the Lord/God.

Abstrak.

Tinggalan arkeologi berupa arca dan relief Bhima banyak ditemukan di sekitar bangunan berundak teras di lereng-lereng gunung pada masa Majapahit Akhir. Di samping data artefaktual itu, terdapat sebuah cerita, yaitu cerita “Dewa Ruci”, yang sangat terkait dengan tokoh Bhima. Dalam cerita tersebut, Bhima disuruh Drona mencari toya pawitra ‘air penghidupan’ di Gunung Candramuka dan juga di tengah laut. Pada waktu itu muncul tokoh Dewa Ruci yang mirip Bhima, namun sangat kecil ukurannya. Ia memberi penjelasan (wejangan) tentang rahasia hidup yang terkait dengan ajaran agama Śaiwasiddhanta dan Bhima dianggap berhasil menghadapi berbagai kesulitan dan tantangan kehidupan. Penelitian ini menggunakan metode fenomenologi atau metode “mengerti”, metode yang mengungkapkan makna berbagai gejala yang terkandung dalam kebudayaan, termasuk arkeologi. Pendekatan yang dipakai adalah pendekatan arkeologi sejarah dengan menggunakan data aktefaktual dan data tekstual. Bhima yang pada awalnya adalah seorang pahlawan Pandawa, setelah bertemu dengan gurunya, Dewa Ruci, menjadi tokoh anutan atau semacam guru bagi mereka yang sedang menempuh “perjalanan spiritual” untuk mencari, bertemu, dan bersatu kembali dengan Tuhan.


Keywords


Toya pawitra, Lengkung Kala-mṛga, Bhima-bungkus, Sang Hyang Mahasukṣma

Full Text:

PDF_INDONESIA

References


Baried, Baroroh. 1987. Pañji, Citra Pahlawan Nusantara. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Bosch, F.D.K. 1947. “The Bhimastava.” India Antiqua : 57-62.

Kinney, Ann R. 2003. Worshipping Śiwa and Buddha. Honolulu: University of Hawaii Press.

Liebert, Gosta. 1976. Studies in South Asian Culture, edited by J. De Leeuw. Leiden: E.J. Brill.

Magetsari, Nurhadi 2001. "Penelitian Agama Islam: Tinjauan Disiplin Ilmu Budaya". dalam Tradisi Baru Penelitian Agama Islam: Tinjauan antar Disiplin Ilmu.

Mishra, 1991. Buana Kosa, Alih Aksara dan Alih Bahasa. Denpasar: Pusat Dokumen Bali.

Palguna, Ida Bagus Dharma. 1962. Dharma Sunya. Memuja dan Meneliti Śiwa. Proefschrift Universiteid Leiden.

Poerbatjaraka, R.M.Ng. 1940. “Dewa Roetji”, Djawa XX: 5-56.

Robson, S.O. 1979. “On the Early Kidung Literature”. Bijdragen tot de Taal – Land en Volkenkunde 135: 30-32.

Santiko, H. 1986. “Mandala (Kadewaguruan) pada Masa Majapahit”, Pertemuan Ilmiah Arkeologi Vol. IV: 150-169.

---------. 1990. “Kehidupan Beragama Golongan Rsi di Jawa”. Monumen Karya Persembahan untuk Prof. Dr. R. Soekmono: 144-156. Edited by Edi Sedyawati, et al. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

---------. 1995. “Tokoh Bhima pada Masa Majapahit Akhir” Kirana Persembahan untuk Prof. Dr. Haryati Soebadio, 123-142. Depok: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

---------. 2009. “Fungsi Candi Sukuh Berdasarkan Interpretasi Relief Bhimaswarga”. Sejarah dan Budaya Tahun Kedua No. 1 Juni 2009: 1-14.

---------. 2011. “The Role of Bhima at Candi Sukuh” Amerta 29 (2): 18-26.

Soebardi, S. 1975. The Book of Cabolek. The Haque: Martinus Nijhoff.

Stutterheim, W.F, 1935 “An Ancient Bhima Cult, Studies in Indonesia Archaeology” Djawa XV: 107-143.

---------. 1956. “An Ancient Bhima Cult”. Studies in Indonesian Archaeology. Batavia: Verhandelingen van het Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde.

Zoetmulder, P.J. dan S.O. Robson. 1982. Kamus Jawa Kuna-Indonesia 2 P-Y. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Zoetmulder, P.J. 1990. Manunggaling Kawula Gusti Terjemahan Dick Hartoko. Jakarta: Gramedia.




DOI: http://dx.doi.org/10.24832/amt.v35i2.275
Article Metrics

Abstract views: 184 | PDF_INDONESIA views: 154 | Total views: 338




Copyright (c) 2017 AMERTA

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

AMERTA INDEXED BY:

Copyright of AMERTA (e-ISSN 2549-8908 p-ISSN 0215-1324). Powered by OJS. ©Designed by Mujab.

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.