Model Pemanfaatan Kawasan Cagar Budaya Trowulan Berbasis Masyarakat.

W. Djuwita Sudjana Ramelan

Abstract


Abstract. Community Based Model of Trowulan Cultural Heritage Region Utilization. Managing cultural heritage is not solely the responsibility of the government. However, local people must be
invited to play an active role too if preservation is to be successful, because utilizationof the site and its resources is directly related to the interaction of people’s lives with cultural heritage and if utilization is not managed properly then social conflict will arise. Trowulan is recognized as a national heritage area through Decree No. 260/M/2013 from the Ministry of Education and Culture, but its preservation needs to be properly managed. This study applied the qualitative approach: observation on sites used by people either controlled by the state or owned by the community; in-depth interviews to persons who have a role in public life, and of central and local government officials; discussion groups with researchers, academics, observers, officials of the central government; and the study of legislation. This study captured the essence of people’s aspirations in the utilization of Trowulan to create a model for community-based Trowulan utilization. Our model has produced benefits to social welfare and national identity. All aspects are related with each other to provide feedback (management board, legal aspect, blueprint, funding) so that it becomes strong and sustainable management.

 

Abstrak. Penanganan cagar budaya diharapkan tidak semata-mata menjadi tanggung jawab pemerintah, masyarakat juga harus diajak berperan aktif. Utamanya, yang terkait langsung dengan kehidupan masyarakat dengan cagar budaya yaitu pemanfaatannya. Apabila pemanfaatan itu tidak
dikelola secara baik maka yang timbul adalah konflik sosial. Trowulan ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya Nasional melalui SK Mendikbud No. 260/M/2013 namun penanganan puluhan ribu cagar budaya masih perlu dibenahi. Studi ini dilakukan melalui pendekatan kualitatif: observasi di situs-situs yang dimanfaatkan oleh masyarakat baik dikuasai oleh negara maupun dimiliki masyarakat; wawancara mendalam kepada tokoh-tokoh yang berperan di dalam kehidupan masyarakat, pejabat pemerintah; diskusi kelompok bersama para peneliti, akademisi, pemerhati, pejabat pemerintah; dan kajian legislasi. Hasil studi ini menangkap esensi dari aspirasi masyarakat dalam pemanfaatan Trowulan
berbasis masyarakat. Model tersebut bermuara pada manfaat identitas nasional dan kesejahteraan sosial. Semua aspek saling terkait dan memberi umpan balik (badan pengelola, legalitas, cetak biru, dana) sehingga menjadi majemen yang kuat dan berkesinambungan.


Keywords


Cagar Budaya, Pelestarian, Kawasan, Badan pengelola, Trowulan

Full Text:

PDF

References


Austin, J. L. 1962. How to do Things with Words, Oxford: Clarendon Press.

Darvill, T. 1995. “Value systems in archaeology”. Dalam Cooper, Carman, dkk. Managing Archaeology. New York: Routledge TJ

Press Ltd.

Ishomuddin. 2014. “Gayatri di kaki Brahu”, dalam Tempo (14 Desember 2014), hlm. 160-161.

Mundardjito. 2011. Evaluasi Tinggalan Budaya yang Terselamatkan dari Bencana Alam. Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional dengan tema Pelacakan Valuasi Risiko Bencana, diselenggarakan oleh Pusat Studi Bencana UGM, tanggal 25 November 2006 di Yogyakarta.

Perda Kabupaten Mojokerto No. 9 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Mojokerto Tahun 2012-2032.

Rahardjo, Supratikno. 2008. Situs Trowulan sebagai Arena Konflik. Makalah dalam Forum studi Integratif Pengembangan dan Perlindungan Situs Peninggalan Majapahit di Trowulan. Jakarta 22-29 November 2008.

Rahardjo, Supratikno dkk. 2009. Pengembangan Model Penanganan Konflik Pemanfaatan Situs Kasus Situs Arkeologi Banten Lama. Laporan Penelitian DIKTI.

Rahardjo, Supratikno dkk. 2010. Pengembangan Model Pengelolaan Situs Arkeologi untuk memaksimalkan pemanfaatan publik: Studi Kasus Situs Arkeologi Trowulan.

Laporan Akhir Penelitian. DRPM UI.

Rahardjo, Supratikno dkk. 2012. Pengembangan Model Pengelolaan dalam Rangka Otonomi Daerah. Laporan Penelitian

Strategis Nasional DIKTI.

Ramelan, W. Djuwita dan Karina Arifin. 2012. “Internet Sebagai Media Informasi Arkeologi”. Makalah dalam International Conference & Workshop “Making You Know 18-19 Oktober 2012, Depok.

Sianturi, Serano. 2008. “Cultures Resources Management and The Case of Borobudur”. Makalah tidak dipulikasikan.

Sulistyanto, Bambang. 2008. Resolusi Konflik dalam Manajemen Warisan Budaya Situs Sangiran. Disertasi Universitas Indonesia.

Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 177/M/1998 tanggal 21 Juli 1998.

Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 260/M/2013 tentang Satuan Ruang Geografis Trowulan Sebagai

Kawasan Cagar Budaya Tingkat Nasional tanggal 30 Desember 2013.

Tanudirjo, D.A. 1996. “Arkeologi Pasca-Modernisme untuk Direnungkan”. Makalah disampaikan dalam Pertemuan

Ilmiah Arkelogi VII di Cipanas.

---------------. 1998. CRM sebagai Manajemen Konflik. Artefak Buletin Jurnal Arkeologi UGM No. 19 Februari 1998.

---------------. 2000. “Reposisi Arkeologi dalam Era Global”. Buletin Cagar Budaya, Vol.1 No. 2, Juli 2000 (suplemen). hlm.11-26.




DOI: http://dx.doi.org/10.24832/amt.v33i1.213
Article Metrics

Abstract views: 227 | PDF views: 545 | Total views: 772




Copyright (c) 2017 AMERTA

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

AMERTA INDEXED BY:

Copyright of AMERTA (e-ISSN 2549-8908 p-ISSN 0215-1324). Powered by OJS. ©Designed by Mujab.

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.