Progres Penelitian Austronesia Di Nusantara.

Truman Simanjuntak

Abstract


Abstract. Progress of Austronesian Studies in the Indonesian Archipelago. Austronesian-speaking people in Indonesia, which are part of the global Austronesian-speakers, which is the most denselypopulated, have a strategic role in figuring out the global Austronesians, especially since Indonesia is located in the middle of the dispersal area. As the direct predecessors of recent Indonesian indigenous population, their emergence since ca. 4000 BP has become a highly important field of study in our nation’s life. The increasingly intensive researches within the last decade have resulted in significant progress in the Austronesian studies and have given us a better picture on the origin, dispersal, and development of the Austronesian speakers and their cultures, both synchronically and diachronically. Local evolution resulted from process of adaptation to the environment, as well as external influences, have created a cultural dynamics from the Neolithic to the Palaeometalic and historic periods, until now. Eventually the local evolution and external influences have generated unique local cultures that form a mosaic of diversity of Indonesian people and culture like we see today. The wide scopes of Austronesian studies and limited researches have left some unanswered questions, both in regional
global and national contexts. That is a challenge, which encourages us to carry out more intensive
researches in the near future.

 

Abstrak. Penutur Austronesia di Indonesia menempati posisi yang sangat strategis dalam pemahaman Austronesia global mengingat keletakannya di bagian tengah kawasan sebaran dengan populasi yang terbesar di antara negara-negara penutur Austronesia. Sebagai leluhur langsung populasi Indonesia asli sekarang, kemunculannya ca. 4000 BP menjadikan bidang studi yang sangat penting bagi kehidupan
bangsa. Penelitian yang semakin intensif dalam dasawarsa terakhir telah memberikan banyak kemajuan tentang asal usul, persebaran, dan perkembangan secara sinkronis dan diakronis. Evolusi lokal sebagai hasil proses adaptasi lingkungan dan pengaruh luar menciptakan dinamika budaya dari Neolitik ke Paleometalik dan berlanjut ke masa sejarah hingga sekarang. Faktor evolusi lokal dan pengaruh luar itu lambat laun menciptakan kekhasan budaya-budaya lokal, hingga membentuk mozaik kebinekaan bangsa dan budaya Indonesia seperti yang kita lihat sekarang. Luasnya cakupan studi Austronesia dan masih terbatasnya penelitian menyisakan banyak pertanyaan yang belum terjawab, baik dalam kaitannya dengan konteks regional-global maupun konteks nasional. Kondisi ini merupakan tantangan yang mendorong perlunya intensifikasi penelitian di masa datang.


Keywords


Austronesia, Indonesia, Kebinekaan, Evolusi lokal, Pengaruh luar

Full Text:

PDF

References


Bellwood, Peter, dkk. 1998. “35,000 years of Prehistory in the Northern Moluccas”. Dalam Gert-Jan Bartstra (ed.), Bird’s

Head approaches. Irian Jaya Studies – a Programme for Interdisiplinary Research, hlm. 233- 275. Rotterdam: A.A.Balkema.

Bellwood, Peter. 1976. “Archaeological Research in Minahasa and the Talaud Islands, Northern Indonesia”, Asian Perspective

XIX (2): 240-288.

-----------. 2000. Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Edisi Revisi.

Bintarti, D.D. 1994. ”Lambanapu, a Burial Site in East Sumba”, makalah dalam Indo-Pacific Prehistory Association Congress.

Chiang Mai, Thailand.

-----------. 2000a. “More on urn burials in Indonesia”. Bulletin of the Indo-Pacific Prehistory Association 19, Vol.3: 73-76.

-----------. 2000b. Nekara Tipe Pejeng: Kajian Banding dengan Nekara Tipe Heger 1. Disertasi. Yogyakarta: Universitas Gadjah

Mada.

Bonatz, Dominik. 2009. “The Neolithic in the Highlands of Sumatra: Problems of Defenition”, From Distant Tales:

Archaeology and Ethnohistory in the Highland of Sumatra, hlm. 43-74. Cambridge Scholars Publishing.

Bulbeck, F.D. 1996/1997. “The Bronze-Iron Age of South Sulawesi, Indonesia: Mortuary Tradition, Metallurgy, and Trade”. Dalam D. Bulbeck and N. Barbard (ed.) Ancient Chinese and Southeast Asian Bronze Age Culture, hlm. 1007-1076. Taipei: SMC Publishing.

Chazine, Jean-Michel. 1995. “Pour Quelques Grottes de Plus”, Diagonal 5: 27-32.

Chia, Stephen. 2003. “The Prehistory ofBukit Tengkorak as a Major Prehistoric Pottery Making Site in Southeast Asia”.

Sabah Museum Monograph Vol. 8. Kota Kinabalu, Malaysia.

Datan, Ipoi dan Peter Bellwood. 1993. “Archaeological excavations at Ua Sireh (Serian) and Lubang Angin (Gunung

Mulu National Park)”, Sarawak, Malaysia. Sarawak Museum Journal. Special Monograph No.6.

Glover, I.C. 1986. Archaeology in East Timor, 1996-1997. Terra Australis 11. Department of Prehistory, Research

School of Pacific Studies, The Australian National University.

Guillaud, Dominique (ed.). 2006. Menyelusuri Sungai: Merunut Waktu. Penelitian Arkeologi di Sumatera Selatan. Jakarta:

PT. Enrique Indonesia.

Handini, Retno. 2005. Foraging yang Memudar. Suku Anak Dalam di Tengah Perubahan. Yogyakarta: Galang Press.

-----------. 2007. “Unsur-Unsur Prasejarah pada Masyarakat Dayak Iban di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat”, Laporan Penelitian Arkeologi. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

-----------. 2009. “Teknologi dan Navigasi Perahu Bercadik di Polewali Mandar, Sulawesi Barat”, Laporan Penelitian Arkeologi. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional.

Heekeren, H.R.van. 1972. The Stone Age of Indonesia. Second Edition. The Hague: Martinus Nijhoff.

Heine-Geldern, R. von. 1945. Prehistoric Research in the Netherlands Indies, dalam Peter Honig and Frans Verdoorn (ed.),

Science and Scientist in the Netherlands Indies, hlm. 129-162. New York: Board for Netherlands Indies, Surinam, and Curacao.

Jacob, Teuku. 1967. Some Problems Pertaining to the Rasial History of the Indonesian Region. Disertasi. Utrecht.

Koentjaraningrat.1969. Pengantar Antropologi. Jakarta: P.D. Aksara.

Lape, Peter. 2000. Contact and Conflict in the Banda Islands, Indonesia, 11th–17th Century. Disertasi Ph.D. pada Department of Anthropology, Brown University, Rhodes Island.

Nitihaminoto, Goenadi dkk. 1978. “Laporan Ekskavasi Gunung Piring, Lombok Selatan”, Berita Penelitian Arkeologi No.

Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Noerwidi, Sofwan. 2009. “Archaeological Research at Kendeng Lembu, East Java, Indonesia”, IPPA Bulletin No.29: 26-32.

Prasetyo, Bagyo. 1999. “The Distribution of Megaliths in Bondowoso (East Java, Indonesia)”, Bulletin of the Indo-Pasifik

Prehistory Association 19.

Prasetyo, Bagyo dkk. 2009. “Pusat Budaya Megalitik Pasemah di Pageralam dan Lahat, Sumatera Selatan”. Laporan Penelitian Arkeologi. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional.

Simanjuntak, Truman. 1992. Neolitik di Indonesia: Neraca dan Perspektif Penelitian, Jurnal Arkeologi Indonesia No.1. Jakarta: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia.

-----------. 2006. “Advancement of Research on the Austronesian in Sulawesi. Dalam Truman Simanjuntak, M. Hisyam, Bagyo Prasetyo, dan Titi Surti Nastiti (ed.), Archaeology: Indonesian Perspective. R.P. Soejono festschrift, hlm. 223-231. Jakarta: International Center for Prehistoric and

Austronesian Studies.

-----------. 2009. “Purbalingga: Masa Lalu untuk Masa Sekarang”, Misteri Batu Klawing. Jejak-jejak Peradaban di Purbalingga, hlm. 41-63. Bandung: Kelompok Riset Cekungan Bandung.

-----------. 2010a. “Kerinci dalam Lintasan Sejarah dan Budaya Austronesia”, dalam ceramah di Pemerintah Daerah Kabupaten

Kerinci.

-----------. 2010b. “Potensi Arkeologi Purbalingga”, dalam Ceramah pada Guru-guru Sejarah Kabupaten Purbalingga.

Simanjuntak, Truman (ed.). 2002. Gunung Sewu in Prehistoric Times. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

-----------. (ed.). 2008. Austronesian in Sulawesi. Jakarta: Center for Prehistoric and Austronesian Studies.

Simanjuntak, Truman dan Hubert Forestier. 2004. “Research Progress on the Neolithique in Indonesia. Special reference to the Pondok Silabe Cave, South Sumatra”, Southeast Asian Archaeology. Quezon City: University of the Philippines.

Simanjuntak, Truman, Irfan Mahmud, Fadhlan S. Intan. 2007. “Arkeologi dan Etnografi Kalumpang, Sulawesi Barat”, Laporan

Penelitian Arkeologi. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional.

Simanjuntak, Truman dkk. 2008. Laporan Ekspedisi K-3 2008. The Kyoto Beaten Paper Research Institut, Jepang; Lembaga

Ilmu Pengetahuan Indonesia; Center for Prehistoric and Austronesian Studies (CPAS).

Simanjuntak, Truman dan Harry Widianto (ed.). 2012. Prasejarah Indonesia. Jilid-1 dari 8 jilid Indonesia dalam Arus Sejarah. Jakarta: Ikhtiar baru van Hoeve.

Simanjuntak, Truman, dkk. 2012. “Prasejarah Austronesia di Nusa Tenggara. Sebuah Pandangan Awal”, Amerta 30(2): 73-89.

Soejono, R.P. 1972. “The Distribution of Types of Bronze Axes in Indonesia”, Bulletin of the Archaeological Institute of the

Republic of Indonesia, No. 9. Jakarta: National Research Center of Archaeology.

-----------. 2008 (cetak ulang). Sistem-sistem Penguburan pada Akhir masa Prasejarah di Bali. Jakarta: Pusat Penelitian dan

Pengembangan Arkeologi Nasional.

Soejono, R.P. (ed.). 1984. Prasejarah Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Soegondho, Santoso. 1993. Wadah Keramik Tanah Liat dari Gilimanuk dan Plawangan. Sebuah Kajian Teknologi dan Fungsi.

Disertasi. Jakarta: Universitas Indonesia.

Spriggs, Matthew. 1989. “The Dating of the Island Southeast Asian Neolithic”, Antiquity 63: 587-613.

Sutayasa. I M. 1972. “Notes on the Buni Pottery Complex, Northwest Java”, Mankind 8:i182-184.

Tanudirjo, D.A. 2001. Islands in Between, Prehistory of the Northeastern Indonesian Archipelago. Ph.D. Thesis. Canberra: The Australian National University.

-----------. 2005. “Budaya Bahari Austronesia”. Diskusi Prasimposium Internasional tentang Austronesia kerjasama LIPI dan IAAI. Jakarta.

Tim Penelitian. 1995. “Laporan Penelitian Situs Plawangan, Rembang, Jawa Tengah (1980-1993)”, Berita Penelitian Arkeologi No. 43. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi

Nasional.

Tim Penelitian. 2009. “Penelitian Arkeologi Pasemah, Sumatra Selatan”, Laporan Penelitian Arkeologi. Jakarta: Pusat

Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional.

Tim Penelitian. 2009. “Penelitian Arkeologi Passo, Sulawesi Utara”, Laporan Penelitian Arkeologi. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional.

Tim Penelitian. 2010. “Penelitian Arkeologi Passo, Sulawesi Utara”, Laporan Penelitian Arkeologi. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional.

Yuniawati, Dwi Yani. 2000. “Laporan Penelitian di Situs megalitik Lembah Besoa, Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah”. Berita Penelitian Arkeologi No. 50. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

---------. 2006. “Minahasa: Kubur Batu Waruga di Sub-etnis Tou’mbulu Sulawesi Utara”. Aspek. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

---------. 2009. “Lembah Besoa di Sulawesi Tengah, Salah Satu Kawasan Tradisi Budaya Austronesia akhir (Protosejarah)” , dalam Evaluasi Hasil Penelitian Arkeologi. Denpasar – Bali, 2-5 November.




DOI: http://dx.doi.org/10.24832/amt.v33i1.211
Article Metrics

Abstract views: 396 | PDF views: 626 | Total views: 1022




Copyright (c) 2017 AMERTA

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

AMERTA INDEXED BY:

Copyright of AMERTA (e-ISSN 2549-8908 p-ISSN 0215-1324). Powered by OJS. ©Designed by Mujab.

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.