Sriwijaya for Our Nation*

Truman Simanjuntak

Abstract


Śrīwijaya Bagi Bangsa Kita. Kerajaan Śrīwijaya yang berpusat di Sumatera bagian selatan dan berkembang pada abad ke-7-13 M. merupakan salah satu puncak budaya Nusantara. Menguasai jalur perdagangan di Selat Malaka dan Selat Sunda; menjalin hubungan dagang dengan Cina, India, Arab, Persia, dan Madagaskar; membangun kawasan-kawasan strategis sebagai pangkalan armada untuk kepentingan dagang dan menjaga wilayah kedaulatan; membangun pusat pendidikan agama Budha dan bahasa Sanskerta; serta membina toleransi beragama, merupakan capaian-capaian sekaligus nilai-nilai yang menjadikannya negara maritim yang besar dan sangat berpengaruh di kawasan regional Asia Tenggara pada zamannya. Śrīwijaya bukan sekedar pengetahuan masa lampau, tetapi hendaknya bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa Indonesia. Aktualisasi semangat, kebesaran, serta nilai-nilai sejarah dan budaya yang dimilikinya hendaknya menjiwai, menginspirasi, dan memotivasi kita dalam membangun bangsa kepulauan yang besar. Caranya mewariskan pengetahuan tentang Śrīwijaya beserta nilai-nilai yang dimilikinya melalui pendidikan formal dan informal, berbagai kegiatan pemasyarakatan, kegiatan olah raga, seni, dan budaya. Cara lain yang sangat strategis adalah membangun “Rumah Peradaban Śrīwijaya”, sebuah kompleks yang mewadahi pusat penelitian dan informasi, museum sebagai sarana edukasi dan pemasyarakatan, serta ruang publik.

 

Abstract. Śrīvijaya Kingdom that centered in South Sumatera is one of the highest peak of culture in the Indonesian Archipelago. The kingdom evolved from 7th to 13th Century AD. Several achievements that made Śrīvijaya Kingdom become a great maritime country and very influential in South East region are as follows, commanded the trade route in Malaka Strait and Sunda Strait; had a trade relations with China, India, Arab, Persia, and Madagascar; built a strategic area as a maritime base for commercial interest and sovereignty protection; built a Buddhist and Sanskrit center; and also built tolerance to religions in society. Śrīvijaya is not just a knowledge from the past, it should bring benefits to Indonesia as a nation. The spirit of actualization, the greatness, and the culture and historical values should inspire and motivate Indonesian people to build a great archipelagic nation. The knowledge of Śrīvijaya could be inherited through formal and informal education, and social activities such as sports activities, arts activities, and cultural activities. Another strategic way is to build “Rumah Peradaban Śrīwijaya” (House of Śrīvijaya Civilization). Rumah Peradaban Śrīvijaya is a building complex that embodies a research and information center, museum as an educational and social facility, and also public space


Keywords


Śrīwijaya, Sumatera, Puncak Budaya, Kerajaan Maritim, Rumah Peradaban.

Full Text:

PDF

References


Boechari. 1986. “New investigations on the Kedukan Bukit inscription. Untuk Bapak Guru. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, hal. 4-18.

Cœdès, George. 1989. “Kerajaan Śrīwijaya, Kadātuan Śrīwijaya”, dalam G. Cœdès dan J.G. Casparis (eds.). Penelitian tentang Sriwijaya. Seri terjemahan arkeologi 2. Jakarta: Dep Pendidikan dan Kebudayaan, hal. 1-46.

Huntington, P. Samuel. 2005. Benturan Antar peradaban dan Masa Depan Politik Dunia. Yogyakarta: Qalam.

Khamenei, Ali Imam. 2005. Perang

Kebudayaan. Jakarta: Cahaya.

Manguin, Pierre-Yves. 2008. “Welcome to Bumi Sriwijaya” or the building of Provincial Identity in contemporary Indonesian”, Asia Research Institute. Working paper series no. 102.

Miksic, John. 1984. “Penganalisaan wilayah dan pertumbuhan kebudayaan tinggi di Sumatera Selatan”, dalam Berkala Arkeologi V no. 1. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta, hal. 8-24.

Munoz, Paul Michel. 2006. Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago and the Malay Peninsula. Singapore: Editions Didier Millet.

Pramono, Djoko. 2005. Budaya Bahari.

Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Sartono. 1981. “The capital of Sriwijaya based on palaeogeographical interpretations” Studies on Sriwijaya. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, hal. 13-44.

Simanjuntak, Truman. 2012. “Sejarah panjang awal peradaban di Sumatera Selatan”. Paper presented at the Seminar awal peradaban Sumatera Selatan. Lahat, 16- 18 Oct. 2012.

Sucipto. 2009. In Suminto. Perkembangan Masyarakat pada Masa Kerajaan Hindu Budha serta Peningalannya (dalam bahasa Indonesia). Solo: Tiga Serangkai.

Soekmono, R. 1981. “Once more the location of Sriwijaya”, Studies on Sriwijaya. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, hal.45-52.

Tanudirjo, Daud Aris. 2009. “The glorious maritime kingdom of Śrīvijaya as an adaptive model to global process”. Paper presented at the Seminar on Śrīvijaya, Palembang 15-19 September, 2009.

Utomo, Bambang Budi. 2012. “Membangun tradisi maritim: Kadātuan Śrīwijaya”. In Edi Sedyawati & Hasan Djafar (eds.). Indonesia dalam Arus Sejarah, hal. 63-105.




DOI: http://dx.doi.org/10.24832/kpt.v23i2.55
Article Metrics

Abstract views: 94 | PDF views: 114 | Total views: 208




Copyright (c) KALPATARU

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

KALPATARU INDEXED BY:

 

 


Copyright of KALPATARU (e-ISSN 2550-0449 p-ISSN 0126-3099). Powered by OJS. ©Designed by Mujab.

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.