PERKEMBANGAN RAGAM HIAS PADA OMO SEBUA DI NIAS SELATAN, SUMATERA UTARA

Elyada Wigati Pramaresti

Abstract


Abstract. Omo Sebua or chief’s house is a cultural material heritage found in South Nias Regency, North Sumatera. In the past, each village in South Nias has one Omo Sebua. However, currently there are only four houses that still exist located in Hilinawalö Mazinö, Hilinawalö Fau, Onohondrö, and Bawömataluo. Each house has its own ornament style which rather different to each other. The main purpose of this article is to find out about the development of the ornaments on four remaining omo sebua which were built in different periods. The methods used in this research were by making shape-based ornament classification then followed by analysis to identify the quantity of its sub-theme, location, and ornament morphology. The result reveals that ornaments on those four houses have developed through times which caused by many factors, such as time, skill, and influence from other cultures. This research attempts to provide documentation of ornaments on Omo Sebua before these fine buildings completely destroyed, as well as to introduce the cultural material heritage of Nias to general public so that it can become an asset for tourism in the future.

Keywords: Omo sebua, ornaments, classification, development

 

Abstrak. Omo sebua atau rumah bangsawan merupakan salah satu tinggalan budaya materi di Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara. Dahulu, tiap desa di Nias Selatan mempunyai satu omo sebua. Kini, hanya empat omo sebua yang masih berdiri di Nias Selatan, yakni di Desa Hilinawalö Mazinö, Hilinawalö Fau, Onohondrö, dan Bawömataluo. Ragam hias pada omo sebua tidak sama antara satu  dan yang lain. Masing-masing rumah mempunyai gaya ragam hiasnya sendiri. Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini berkaitan dengan perubahan ragam hias pada empat omo sebua yang didirikan dalam waktu yang berbeda-beda. Tujuan penelitian ini adalah melihat perkembangan ragam hias yang ditemukan pada keempat omo sebua di Nias Selatan. Metode yang digunakan untuk menjawab permasalahan adalah klasifikasi ragam hias berdasarkan bentuk, dilanjutkan dengan analisis jumlah subtema, keletakan, dan morfologi ragam hias. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ragam hias pada keempat omo sebua mengalami perkembangan dari rumah tertua hingga rumah termuda. Perkembangan ragam hias terjadi karena faktor waktu, keterampilan seniman, dan pengaruh budaya asing di Nias Selatan. Manfaat dari penelitian ini adalah menyediakan dokumentasi ragam hias sebelum keempat omo sebua yang tersisa rusak sekaligus memperkenalkan tinggalan budaya materi di Nias kepada masyarakat umum sehingga dapat menjadi modal dalam sektor pariwisata di masa yang akan datang.

Kata kunci: Omo sebua, ragam hias, klasifikasi, perkembangan

 


Keywords


Omo sebua, ornaments, classification, development Omo sebua, ragam hias, klasifikasi, perkembangan

Full Text:

PDF

References


Duha, Nata’alui. 2002. Omo Niha: Perahu Darat Di Pulau Bergoyang. Gunung Sitoli: Yayasan Pusaka Nias.

Harpioza, Okki Dwi. 2016. “Identifikasi Perubahan Arsitektur Rumah Tradisional: Studi Kasus Permukiman Desa Kurau, Aliran Sungai Desa Kurau Di Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Bangka Belitung.” Atma Jaya University.

Hӓmmerle, P. Johannes. 2013. Pasukan Belanda Di Kampung Para Penjagal. Gunung Sitoli: Yayasan Pusaka Nias.

Pandanwangi, Ariesa dan Krismanto Kusbiantoro. 2017. “Omo Sebua Di Bawomataluo Nias Selatan.” Serat Rupa Journal of Design 1 3.

Pramaresti, Elyada Wigati. 2018. “Variasi Dan Perkembangan Ragam Hias Pada Omo Sebua Di Nias Selatan, Sumatera Utara.” Gadjah Mada University.

Strauss, Anselm dan Corbin. 2003. Dasar-Dasar Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sukawi dan Zulfikri. 2010. “Adaptasi Arsitektur Sasak Terhadap Lingkungan Tropis (Studi Kasus Desa Adat Sade Lombok.” Berkala Teknik 1 6.

Viaro, Alain M, dan Arlette Ziegler. 2006. Traditional Architecture of Nias Island. Gunung Sitoli: Yayasan Pusaka Nias.

Waterson, Roxana. 2010. The Living House: An Anthropology of Architecture in South-East Asia. Tuttle Publishing.

Wiradnyana, Ketut. 2010. Legitimasi Kekuasaan Pada Kebudayaan Nias. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Duha, Nata’alui. 2012. Omo Niha: Perahu Darat di Pulau Bergoyang. Gunung Sitoli: Yayasan Pusaka Nias.

Harpioza, Okki Dwi. 2016. “Identifikasi Perubahan Arsitektur Rumah Tradisional: Studi Kasus Permukiman Desa Kurau, Aliran Sungai Desa Kurau di Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Bangka Belitung.” Atma Jaya University.

Hӓmmerle, P. Johannes. 2013. Pasukan Belanda di Kampung Para Penjagal. Gunung Sitoli: Yayasan Pusaka Nias.

Pandanwangi, Ariesa dan Krismanto Kusbiantoro. 2017. “Omo Sebua di Bawomataluo Nias Selatan.” Serat Rupa Journal of Design 1 3.

Pramaresti, Elyada Wigati. 2018. “Variasi dan Perkembangan Ragam Hias pada Omo Sebua di Nias Selatan, Sumatera Utara.” Gadjah Mada University.

Strauss, Anselm dan Corbin. 2003. Dasar-Dasar Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sukawi dan Zulfikri. 2010. “Adaptasi Arsitektur Sasak terhadap Lingkungan Tropis (Studi Kasus Desa Adat Sade Lombok.” Berkala Teknik 1 6.

Viaro, Alain M, dan Arlette Ziegler. 2006. Traditional Architecture of Nias Island. Gunung Sitoli: Yayasan Pusaka Nias.

Waterson, Roxana. 2010. The Living House: An Anthropology of Architecture in South-East Asia. Tuttle Publishing.

Wiradnyana, Ketut. 2010. Legitimasi Kekuasaan pada Kebudayaan Nias. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.




DOI: http://dx.doi.org/10.24832/kpt.v27i2.463
Article Metrics

Abstract views: 96 | PDF views: 124 | Total views: 220




Copyright (c) 2019 KALPATARU

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

KALPATARU INDEXED BY:

 

   

 


Copyright of KALPATARU (e-ISSN 2550-0449 p-ISSN 0126-3099). Powered by OJS. ©Designed by Mujab.

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.