Arkeologi Untuk Semua: Bentuk Dan Prospek Pemanfaatnnya Di Papua.

M. Irfan Mahmud

Abstract


Tulisan dalam setting Papua ini ingin memperlihatkan bahwa arkeologi dapat diharapkan ikut berperan menjembatani kebutuhan informasi masyarakat secara luas. Arkeologi memiliki dimensi luas: ideologis, akademis, dan praktis. Secara ideologis, arkeologi terkait dengan aspek kebutuhan dasar masyarakat, yakni identitas dan karakter. Dalam konteks Papua, ditemui banyak isu yang berkaitan dimensi arkeologi, seperti problem identitas budaya, hubungan historis kebangsaan, multikulturalisme, lemahnya muatan pendidikan karakter, rendahnya apresiasi stakeholder, komodifikasi, serta persoalan kebijakan pengembangan dan pemanfaatan sumberdaya arkeologi. Keterpaduan kegiatan penelitian dengan kepentingan masyarakat dalam konteks wilayah Papua dianggap merupakan salah satu koridor dalam membuka wawasan mengelola isu-isu tersebut. Dalam konteks isu-isu tersebut akan digambarkan bentuk dan prospek program arkeologi terhadap enam kelompok kepentingan di Papua, yaitu: (1) masyarakat umum; (2) pelajar dan guru; (3) anggota legislatif dan para eksekutif (termasuk birokrat); (4) penegak hukum; (5) manajer dan arkeolog; (6) masyarakat lokal. Pada intinya tulisan ini akan menggambarkan bahwa telah terjadi pergeseran implementasi arkeologi dari akademis ke publik. Karena itu, sumberdaya arkeologi merupakan komponen penting pembangunan masa kini dari sumber-sumber masa lalu yang dapat diorientasikan melayani kebutuhan masa kini untuk semua stakeholder.

 

Abstract. This article in Papua setting is aimed to show that archaeology can fulfill its role as provider of information to society at large. Archaeology has broad dimensions, which are ideological, academic, and practical. Ideologically, archaeology is related to the basic needs of society, which are identity and character. In the context of Papua, there are plenty of issues regarding the dimensions of archaeology, such as the problem of cultural identity, historic relation of nationalism, multiculturalism, the weakness of character education, poor appreciation among stakeholders, commodification, as well as the problem of policies regarding the development and utilization of archaeological sources. The integration between research activities and public needs in the context of Papua is believed to be one of the corridors to open the insights in the management of those issues. In the context of those issues, this article will describe the forms and prospects of archaeological program on six interest groups in Papua: (1) the general public; (2) students and teachers; (3) members of legislative and executive boards (including bureaucrats); (4) law enforcement community; (5) managers and archaeologists; and (6) local communities. In essence, this article will illustrate that there has been a shift of archaeological implementation from academic to public. Therefore archaeological sources are among the important elements in present development based on resources of the past that can be oriented to serve the present needs for all stakeholders.


Keywords


Papua, identitas budaya, multikulturalisme kelompok kepentingan

Full Text:

PDF

References


Anonim. 2011. “Undang-undang Republik Indonesia No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya”. Jakarta: Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Kementerian Kebudayaan dan

Pariwisata.

Ayatrohaedi. 1986. Kepribadian Budaya Bangsa (Local Genius). Jakarta: Dunia Pustaka Jaya.

Bakker SJ, J.W.M. 1990. Filsafat Kebudayaan: Sebuah Pengantar. Jakarta: Kanisius. Cet. ke-4.

Binford, L.R. 1972. An Archaeological Perspective. New York and London: Academic Press.

Carman, John. 2001. Archaeology and Heritage: An Introduction. New York: Continuum.

Cleere, H.F. (ed.) 1989. Archaeological Heritage Management in the Modern World. London: Unwin Hyman.

Danandjaja, James. 2002. Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan Lain-Lain. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. Cet. VI.

Djami, Erlin Novita. 2011. “Penelitian Arkeologi di Kabupaten Biak Numfor (Manusia Berpenutur Austronesia)”, Laporan Penelitian. Jayapura: Balai Arkeologi Jayapura.

Hardiman, F. Budi. 2002. “Belajar dari Politik Multikulturalisme”, Pengantar Buku Will Kymlicka, Kewargaan Multikultural. Jakarta: Pustaka LP3ES-Indonesia.

Haviland, William. A. 1988. Antropologi. Jilid I. Jakarta: Erlangga. Edisi ke-4.

Howard, Peter. 2002. Heritage: Management, Interpretation, Identity. London: Contiuum.

Geertz, Clifford. 1996. Welt in Stueken Kultur und Politik am Ende de 20 Johrhunderts. Passagen-Verleg, Wien.

Giddens, Anthony. 1986. Kapitalisme dan Teori Sosial Modern: Suatu Analisis Karyatulis Marx, Durkheim dan Max Weber. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.

Kahn, Joel S. 1997. “Culturalizing Malaysia: Globalism, Tourism, Heritage, and the City in Georgetown”, dalam Michel Picard & Robert E. Wood (eds.), Tourism, Ethnicity, and the State in Asian and Pacific Societies. Honolulu: University of Hawaii Press.

Kartodirdjo, Sartono dkk. 1995. 700 Tahun Majapahit (1293-1993), Suatu Bunga Rampai. Jakarta: Balai Pustaka.

Kern, H. 1917. “De Nagarakrtagama. Oudjavaansche Lofdicht op Koning Hayam Wuruk van. Majapahit”. VG VII: 249-320; VG VIII: 1-132.

Koentjaraningrat. 1990. Sejarah Teori Antropologi II. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.

Krom, N.J. 1919. Oud-Javaansche Lofdicht Nagarakrtagama van Prapañca (1365 AD). Meet Aantekeningen van N.J. Krom. s’Gravenhage: Martinus Nijhoff.

Kymlicka, Will. 2002. Kewargaan Multikultural. Jakarta: Pustaka LP3ES-Indonesia.

Latif, Yudi. 2009. Menyemai Karakter Bangsa: Budaya Kebangkitan Berbasis Kesastraan. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Macleod, Donald. G. 1977. “Peddle or Perish: Archaeological Marketing from Concept to Product Delivery”, dalam Schiffer M.B. dan G.J. Gumerman (ed.), Consevation Archaeology.

London: Academic Press.

Mahmud, M. Irfan. 2011. “Jejak Austronesia, Melanesia, dan Tradisi Prasejarah Berlanjut di Papua”, dalam M. Irfan Mahmud dan Erlin Novita Idje Djami (ed.), Austronesia dan Melanesia

di Nusantara: Mengungkap Jati-Diri dari Temuan Arkeologis: 43-74. Yogyakarta: Ombak.

----------. 1998. “Pelestarian Benda Cagar Budaya ditinjau dari Sudut Pandang Sosiologis”, Somba Opu, Edisi ke 6, Tahun IV-April: 15-29 Ujung Pandang: Suaka Peninggalan Sejarah dan

Purbakala Sulawesi Selatan dan Tenggara.

----------. 2001. Memediasi Masa Lalu: Spektrum Arkeologi dan Pariwisata. Makassar: Kerjasama Balai Arkeologi Makassar dengan Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin.

----------. 2003. Kota Kuno Palopo: Dimensi Fisik, Sosial, dan Kosmologi. Makassar: Masagena Press

----------. 2004. “Warisan Kultural dalam Perspektif Masyarakat: Studi Kasus Kawasan Situs Banten Lama”. Tesis Universitas Indonesia. Depok.

Mahmud, M. Irfan & Erlin Novita Idje Djami (ed). 2011. Austronesia dan Melanesia di Nusantara: Mengungkap Asal-Usul dan Jati-Diri dari Temuan Arkeologis. Yogyakarta: Ombak

Maunati, Yekti. 2004. Identitas Dayak: Komodifikasi dan Politik Kebudayaan. Yogyakarta: LKIS.

McGimsey III, Charles R. 1972. Public Archaeology. New York: Seminar Press.

Melzer, Arthur M, Jerry Weinberger & M. Richard Zinman (ed.). 1998. Multiculturalism and American Democracy. Kansas: University Press of Kansas.

Mikkelsen, Britha. 1999. Metode Penelitian Partisipatoris dan Upaya-upaya Pemberdayaan: Sebuah Buku Pegangan Bagi Para Praktisi Lapangan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Nugroho, Irawan Djoko. 2011. Majapahit: Peradaban Maritim Ketika Nusantara Menjadi Pengendali Pelabuhan Dunia. Jakarta: Suluh Nuswantara Bakti.

Peyon, A. Ibrahim. 2010. Kolonialisme dan Cahaya Dekolonisasi di Papua Barat. Jayapura: Nentien Focus. Edisi Pertama.

Rudito, Bambang, Adi Prasetijo, Kusairi (ed.). 2003. “Akses, Peran-serta Masyarakat: Lebih Jauh Memahami Community Development”. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Santoso, Purwo (ed.). 2003. “Pembaharuan Desa Secara Partisipatif”. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sedyawati, Edi. 2002. “Pembagian Peranan Dalam Pengelolaan Sumberdaya Budaya”, dalam I Made Sutaba dkk., Manfaat Sumberdaya Arkeologi untuk Memperkokoh Integrasi Bangsa:

-14. Denpasar: Upada Sastra.

Sharer, Robert J. & Asmore, Wendy. 1979. Fundamentals of Archaeology. California: The Benjamin Cummings Publishing Company Inc.

Simanjuntak, Truman. 2008 (ed.). Austronesian in Sulawesi. Yogyakarta: Galang Press-Center for Prehistoric and Austronesian Studies.

Soedjatmoko. 1995. Dimensi Manusia dalam Pembangunan. Jakarta: LP3ES. Cet. IV.

Sukandar, Sri Chiirullia. 2011. “Identifikasi Aspek-Aspek Revitalisasi Kawasan Situs untuk Kepentingan Publik”, Laporan Penelitian. Jayapura: Balai Arkeologi Jayapura.

Sulistyanto, Bambang. 2003. Balung Buto: Warisan Budaya Dunia dalam Perspektif Masyarakat Sangiran. Yoyakarta: Kunci Ilmu.

Suroto, Hari. 2011. “Ekskavasi dan Survei Arkeologi di Kawasan Danau Sentani”, Laporan Penelitian. Jayapura: Balai Arkeologi Jayapura.

Tanudirjo, Daud Aris. 2011. “Interaksi Austronesia – Melanesia, Kajian Interpretasi Teoritis”, dalam M. Irfan Mahmud dan Erlin Novita Idje Djami (ed.), Austronesia dan Melanesia

di Nusantara: Mengungkap Jati-Diri dari Temuan Arkeologis: 23-41. Yogyakarta: Ombak.

Watson, Patty Jo & Carol Kramer. 1979. Ethno-Archaeology. New York: Columbia University Press.

Wolters, O.W. 2011. Kemaharajaan Maritim Sriwijaya dan Perniagaan Dunia Abad III-Abad VII. Jakarta: Komunitas Bambu.




DOI: http://dx.doi.org/10.24832/kpt.v21i1.105
Article Metrics

Abstract views: 213 | PDF views: 770 | Total views: 983




Copyright (c) 2017 KALPATARU

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

KALPATARU INDEXED BY:

 

 


Copyright of KALPATARU (e-ISSN 2550-0449 p-ISSN 0126-3099). Powered by OJS. ©Designed by Mujab.

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.