JEJAK VOC-KOLONIAL BELANDA DI PULAU BURU (ABAD 17-20 M)

Syahruddin Mansyur

Abstract


Abstrak.

 

Salah satu wilayah yang mendapat pengaruh kolonial di Kepulauan Maluku adalah Pulau
Buru, ditandai dengan pendirian sebuah benteng pertahanan sebagai salah satu pos pengawasan jalur
perdagangan. Manifestasi jejak pengaruh kolonial ini merupakan indikasi awal peran wilayah Pulau
Buru dalam konteks historiografi masa kolonial. Dalam konteks ini pula, diperoleh gambaran tentang
kronologi dan pola okupasi masa kolonial di Pulau Buru. Oleh karena itu, penelitian ini difokuskan
pada data arkeologi dan data sejarah, sehingga metode analisis deskriptif dan metode analogi sejarah
digunakan untuk menjawab permasalahan penelitian. Hasil penelitian menunjukan bahwa bentuk
tinggalan arkeologi yang masih dapat diamati di wilayah penelitian berupa: benteng, bekas bangunan
gereja, meriam, rumah pejabat Belanda, kantor pemerintahan, bekas dermaga, mata uang Belanda, dan
tempayan. Berdasarkan hal itu, dapat diketahui bahwa peran Pulau Buru pada awal okupasi kolonial
berkaitan dengan kebijakan monopoli cengkih di Kepulauan Maluku. Demikian pula tentang pola
okupasi kolonial, dimana pada periode penguasaan kolonial di Pulau Buru mengalami perkembangan
dari Kayeli sebagai pusat pemerintahan awal. Akhirnya pada awal abad ke-20, karena pertimbangan
lingkungan maka pemerintah Belanda memindahkan pusat pemerintahan ke lokasi yang memiliki
kondisi lingkungan yang lebih baik, yaitu Namlea. Rentang kronologi di kota baru inipun berlangsung
sangat singkat yaitu sekitar 40 tahun.

 

Abstract. Traces of The Dutch Colonial (VOC) on The Buru Island (17-20 Centuries).

 

One of the areas that gets the colonial influence on Buru Island Maluku Islands are characterized by
the establishment of a fortress as one of observation post on the trade route in Maluku Islands.
Manifestations of traces of colonial occupation pattern is an early indication of the role of the island
of Buru in the context of colonial historiography. In this context, it is important to trace the material
culture of the colonial period to determine the role of this region in order to obtain an overview
of the chronology and pattern of colonial occupation on the island of Buru. Therefore, this study
focused on archaeological data and historical data, so that the descriptive analytical method and of
historical analogies methods are used to answer the research problem. The results showed that the
shape of archaeological remains which can still be observed in the study area: the fort, the former
church building, the cannon, the house of Dutch officials, government offices, the former dock, the
Dutch currency, and jars. Based on that, it can be seen that the role of Buru Island in the early
colonial occupation was related to the clove monopoly policy in the Maluku Islands. Similarly, on the
pattern of colonial occupation, which in the period of colonial rule on the island of Buru have evolved
from early Kayeli as the central government. Finally, in the early 20th Century, due to environmental
considerations the Dutch government moved the seat of government to a location that has a better
environmental conditions, that is Namlea. The range of chronology in the new city is also very short,
which is about 40 years.


Keywords


Trace, Sites Kayeli, Colonial, Buru Island.

Full Text:

PDF

References


Ambary, H.M. 1998. Menemukan Peradaban: Jejak Arkeologis dan Historis. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.

Andaya, L.Y. 1993. The World of Maluku: Eastern Indonesia in the Early Modern Period. Honolulu: University of Hawaii Press.

de Graaf, H.J., 1977. Sejarah Ambon dan Maluku Selatan. Terjemahan Frans Rijoli dengan Judul Asli: De Geschiedenis van Ambon en de Zuid Molukken.

Grimes, B.D. 1994. “Cloves and Nutmeg, Traders, and Wars: Language Contact in the Spice Island” dalam Trends in

Linguistics: Studies And Monographs; 77. Language Contact and Change in The Austronesian World. Tom Dutton and Darrel Tryon (eds.). Berlin: Walter de Gruyter And Co. pp. 251-274.

Grimes, B.D. 2006. “Mapping Buru: The Politics of Territory and Settlement on an Eastern Indonesian Island” dalam Sharing the Earth, Dividing the Land: Land and Territory in The Austronesian

World. Thomas Reuter and Thomas Anton Reuter (eds.). Canberra: ANU-Press. pp. 135-155.

Leirissa, R.Z. 1973. “Kebijaksanaan VOC untuk Mendapatkan Monopoli Perdaganga Cengkeh di Maluku Tengah antara Tahun 1615 dan 1652” dalam Bunga Rampai Sejarah Maluku (I). Jakarta: Lembaga Penelitian Sejarah Maluku.

Manusama, 1983. De Ambonse Landen Onder De VOC. Zoals Opgetekend in De Ambonse Landbeschriving. G.E. Rumphius. Utrech: Landelijk Steunpunt Educatie Molukkers.

Miller, George. 2012. Indonesia Timur Tempo Doeloe (1544-1992). Jakarta: Komunitas Bambu.

Ricklefs. M.C. 2010. Sejarah Indonesia Modern: 1200-2008. Jakarta: Serambi (Cetakan Ketiga: November).

Rumphius, G.E. 1910. “De Ambonsche historie, behelsende een kort verhaal der gedenkwaardigste geschiedenissen zo in vreede als oorlog voorgevallen sedert dat de Nederlandsche Oost Indische Comp. het besit in Amboina gehadt heeft”. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 64. 2 parts.

Sharer And Ashmore, 1980. Fundamentals of Archaeology. California: The Benyamin Publishing Company Inc.

Sindhunata. 2007. Manusia dan Perjalanan: Dari Pulau Buru ke Venesia. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Tanudirjo, D.A. 1998. Strategi Penelitian Arkeologi Indonesia. Universitas Gajah Mada.

Tim Penelitian. 2011. Laporan Penelitian Arkeologi: Pengaruh Kolonial di Wilayah Pulau Buru Kabupaten Buru Propinsi Maluku. Ambon: Balai Arkeologi Ambon.

Pusat Dokumentasi Arsitektur, 2010. Inventory and Identification Forts in Indonesia. Jakarta: Pusat Dokumentasi Arsitektur,

Direktorat Peninggalan Purbakala, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, PAC Architects and Consultants. Jakarta: Pusat Dokumentasi Arsitektur.

Pemerintah Kabupaten Pulau Buru. 2011. Profil Kabupaten Buru. Diakses pada tanggal 2 Februari 2011. Link: http://www. burukab.go.id

van de Wall, V.I. 1928. de Nederlandsche Oudheden in de Molukken. Gravenhage: Martinus Hijhoff.

van der Miesen, J.W.H. 1908. Een tocht langs de noordoostkust van Boeroe. Tijdschrift van het Koninklijk Nederlandsch Aardrijkskundig Genootschap te Amsterdam, 25/2. pp. 833-71.

Wallace, A.R. 2009. Kepulauan Nusantara: Sebuah Kisah Perjalanan, Kajian Manusia dan Alam. Jakarta: Komunitas Bambu.

Sumber Online:

Karakteristik Wilayah Kabupaten Buru. http://www.burukab.go.id/

Peta topografi Pulau Buru. h t t p : / / m s . w i k i p e d i a . o r g / w i k i / File:Topographic_map_of_Buru-en.svg.

Peta Kerawanan banjir Pulau Buru. http://www.penataanruangmaluku.net.




DOI: http://dx.doi.org/10.24832/amt.v32i1.376
Article Metrics

Abstract views: 123 | PDF views: 288 | Total views: 411




Copyright (c) 2018 AMERTA

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

AMERTA INDEXED BY:

Copyright of AMERTA (e-ISSN 2549-8908 p-ISSN 0215-1324). Powered by OJS. ©Designed by Mujab.

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.